Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Online



widget

Traffic

Jam Berapa?



Facebookan Yoooh!!
SLINK

Desiderius Erasmus dalam "The Praise of Folly"

Desiderius Erasmus dalam “The Praise of Folly

 

Renaisans bisa disebut juga Zaman Pencerahan, penanda bahwa berakhirnya Zaman Pertengahan yang banyak dihuni oleh Kaum Skolastik yang banyak ditandai dengan adanya sekolah-sekolah katedral, penguasaan ortodoksi Gereja dan Aliran Aristotelian. Zaman Pertengahan muncul karena bertolak pada Humanisme Yunani Klasik yang memandang perspektif manusia dari segi kodrati. Humanisme Yunani Klasik pada Zaman Pertengahan mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh Doktrin Kristiani sehingga Humanisme pada Zaman ini lebih memandang manusia pada perspektif yang adikodrati, tetapi tidak meninggalkan Humanisme Yunani Klasik, yang lebih mengusung manusia yang tidak sekedar makhluk kodrati yang lebih kepada makhluk yang adikodrati.

Sekolah-Sekolah Sebagai Salah Satu Penanda Zaman Abad Pertengahan

Sekolah-sekolah katedral yang muncul di Eropa Utara merupakan pusat pendidikan dasar bagi para calon imam katholik, sekolah-sekolah ini diajarkan tujuh bidang liberal arts. 1 . Sedangkan karya-karya Aristoteles mengenai Silogisme dan penafsiran diterjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Arab oleh Ibnu Sina dan Ibnu Ruysd; dan bahasa latin oleh Bothieus. Lebih dari itu munculnya institusi pendidikan tinggi yang baru yang merupakan wujud perkembangan sekolah-sekolah monastic dan katedral pada Abad Pertengahan, yaitu universitas-universitas terkenal seperti universitas Bologna, Salermo, Paris, Montpellier, 2 juga mewarnai pentas intelektualitas para pemikir dalam bidang filsafat.

Sesuai dengan perkembangan pada Abad Pertengahan, kemudian muncul kesamaan derajat antara kaisar dan paus. Raja dalam hal mengambil keputusan juga harus mendapat persetujuan juga dari paus walaupun kepausan masih dibawah kekaisaran tapi peranan paus sangat besar dalam hal ini. Menurut saya Inilah dampak perspektif manusia yang Adikodrati, manusia dalam perspektif kodrati saja tidak cukup kalau tidak didasari pada konsep ke-ilahian atau lebih kepada citra tuhan dan yang memiliki semua itu adalah pendeta-pendeta, uskup-uskup Agung dan Paus dengan Iman Kristusnya terutama pada masa st. Augustine. Sehingga butuh dampingan oleh seorang Paus dalam mengambil keputusan.

Banyak juga kejadian-kejadian mengenai kekuasaan kepausan yang mewarnai Abad Pertengahan selain Mazhab Skolastiknya yang kemudian menjadi salah satu Aliran dalam Filsafat.

Sejak masa Gregory VII sampai pertengahan Abad ketigabelas, Sejarah Eropa sibuk dengan persaingan dan pertentangan antara Gereja dan Raja-raja dunia untuk meraih kekuasaan,....Pada tahun 1904, Urban melakukan prosesi gemilang melewati Italia Utara dan Perancis, Ia menang atas Philip, Raja Perancis, yang menginginkan perceraian dan karenanya dikucilkan oleh Paus…. 3

Kemudian Paus Urban dengan kemenangannya memproklamasikan Perang Salib pertama yang bertujuan untuk kepentingan hubungan kebudayaan dan keagamaan, semangat dan gelora keagamaan mengakibatkan terbunuhnya orang-orang Yahudi dan lebih dari itu banyak dari orang-orang Yahudi yang dibaptis secara paksa jika orang-orang Yahudi tersebut menolak tak segan-segan untuk dibunuh. Perang salib bukan melulu perang Agama tetapi lebih kepada perang merebutkan daerah kekuasaan, kita dapat melihatnya ketika bangsa Eropa yang berbondong-bondong untuk menaklukkan Masjidil Aqsa, Jerusalem, Palestina yang diyakini olehnya sebagai Kuil Solomon/Solomon Temple. Yang konon kabarnya dibawah Masjidil Aqsa ada Harta peninggalan Raja Solomon beserta tanah yang diperjanjikan umat kristen di Palestina. Perang Salib Pertama dimenangkan oleh orang-orang Kristen dengan mendirikan kerajaan Jerusalem dan mengangkat Godfrey dan Boullion sebagai penguasanya.

Terpuruknya Kekuasaan Kepausan

Beberapa riwayat kepausan diujung zaman Abad Pertengahan ditengarai adanya kebobrokan moral kepausan.

Kepausan, yang semakin larut dalam kemewahan dunia, pada umumnya tampil sebagai lembaga pajak, menarik banyak upeti demi kepentingan mereka sendiri dari banyak negara. Paus-paus tidak lagi mempunyai otoritas moral yang menjadi legitimasi kekuasaan mereka. 4

Paus-paus nampaknya sudah hampir memisahkan antara kepentingan agama dengan kepentingan mereka sendiri dan lebih-lebih sikap pragmatis ditunjukan oleh mereka saat bersekongkol dengan raja Perancis untuk menentang Templars. 5 Keduanya membutuhkan uang, Paus membutuhkannya karena ia mabuk ketenaran dan nepotisme, 6 sedangkan raja Perancis membutuhkannya untuk perang dengan Inggris. Tindakan para paus ini yang membuat dirinya kaya dianggap sudah melenceng dari ajaran kristus. Skismatik besar terjadi di dalam kepausan Gereja Katholik Roma yang menimbulkan perpecahan atau dualisme kekuasaan kepausan, dari sini kemudian ada inisiatif untuk menyelesaikan dengan membentuk dewan umum yang lebih tinggi dari kepausan tetapi hal ini tidak berjalan lancar karena hasil sidang dewan umum mengangkat paus yang baru dengan menurunkan 2 paus sebelumnya, dewan ini bertujuan untuk menghentikan tindakan para paus yang melakukan kesesatan. Tetapi hal lain yang sangat merugikan adalah paus baru yang diangkat oleh kardinal ternyata adalah bekas bajak laut yang terkenal dengan kejahatannya, paus ketiga ini bergelar John XXIII.

Martin Luther adalah salah satu pembaharu agama Kristen yang kelak ada dualisme ajaran antara Kristen Katholik dan Kristen Protestan ajaran yang dibawa Luther, yang sangat menentang keras tindakan jual beli indulgensia. 7 Yang pada saat itu para pihak gereja menggunakan Indulgensia ini dengan dalih untuk membangun gereja dan sarana-sarananya, dengan cara menjual Indulgensia barang siapa yang membayar lebih tinggi maka dia akan segera masuk surga, Inilah yang sangat ditentang oleh Luther pada saat itu. Dengan cara seperti itu orang tidak usah capek-capek melakukan perbuatan baik karena mereka dapat menebus dosa mereka dengan cara membayar sejumlah uang. Pembayaran untuk Indulgensia tidak melulu uang, dapat juga berupa pengabdian untuk gereja. Hal ini dapat dilihat pada film “Season of The Witch”, semakin panjang pengabdianmu terhadap gereja, semakin kecil pula dosa yang kamu dapatkan. Hal ini juga tak lain untuk kepentingan perang pada waktu itu dan banyak prajurit yang tertarik untuk mengabdikan dirinya untuk Gereja. Dan usaha Luther-pun tidak sia-sia, dia mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Dari sini dapat kita lihat kemunduran kekuasaan kepausan pada zaman Abad Pertengahan, yang akan semakin lenyap pada masa Renaissance. Tunas renaissance nampaknya juga sudah bersemi di zaman Abad Pertengahan, karena keterpurukan lembaga kepausan, perang salib, dan perang antara negara-negara di Eropa yang memunculkan ajaran-ajaran baru seperti Martin Luther dengan Protestan-nya.

Memasuki Zaman Renaissance

Gereja hampir sudah tidak tercium baunya disini, dalam hal pendidikanpun orientasi tentang manusia dalam perspektif adikodrati mulai ada pergeseran makna, semula ajaran tentang manusia dalam perspektif adikodrati lebih kepada manusia sebagai citra tuhan (imago dei) atau dengan kata lain manusia dalam perspektif kodrati tidaklah cukup apabila tidak disertakan dengan rahmat ilahi yaitu ajaran kristus. Jadi ajaran Yunani Kuno tentang manusia Ideal dianggap bid'ah oleh ajaran kristen. Pada abad pertengahan juga lebih positifistik dalam memandang semua masalah dan harus mengacu pada Alkitab, jika melenceng dari Alkitab maka tak segan-segan dianggap bid'ah. Seperti yang pernah dilakukan oleh Galileo Galilei yang membenarkan teori Copernicus, bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi tapi sebaliknya bumilah yang mengelilingi matahari, yang sebelumnya pihak Gereja mengajarakan bahwa bumi adalah poros dari alam semesta dan matahari mengelilingi bumi hal ini dibantah oleh Copernicus dan dibenarkan oleh Galileo Galilei.

Lain halnya dengan Zaman Renaissance walaupun masih mengacu pada pendidikan Skolastik ala Abad Pertengahan, tapi pergeseran makna adikodrati lebih mengacu pada kurikulum Liberal Arts. 8 Yang lebih ditujukan untuk ajaran Agama Kristen, dengan kata lain pemahaman keilahian tidak cukup jika hanya mengacu pada Alkitab tapi harus juga disokong dengan ilmu-ilmu lainnya seperti Filsafat, karena mereka percaya jika pemahaman tentang keilahian ini hanya mengacu pada Alkitab maka akan berakibat kepicikan dan penyempitan Agama Kristen.

Dengan demikian, seorang humanis tidak berpegang lebih dahullu pada doktrin dan dogma Agama mengenai eksistensi dan esensi semesta raya dan martabat manusia. Mereka menggunakan sastra dan filsafat sekuler dengan tujuan mendukung dan memperkaya iman kristiani mereka. 9 Banyak tokoh-tokoh yang dilahirkan pada zaman Renaissance ini seperti Marcillio Ficino, Giovani Pico, Machiavelli, Descartes, Thomas More dan yang paling menarik menurut penulis adalah seorang Desiderius Erasmus

Folly : Antipati Erasmus dalam Penggolongan Aliran Filsafat

Desiderius Erasmus teman akrab dari Sir Thomas More. Ketertarikan penulis timbul ketika membaca beberapa buku filsafat dimana Erasmus dari Rotterdam panggilan akrabnya kurang lebih mengatakan bahwa Kebahagian sejati adalah saat kita mengkhayal menjadi penguasa karena biayanya sangat murah dari pada kita mencari kekuasaan berharap menjadi pemimpin dengan mengorbankan banyak hal dan biayanyapun sangat mahal. Kritikan ini tak lain adalah buah dari kekecewaan pada keterpurukan Zaman Abad Pertengahan. Tapi sayang pembahasan tentang Filsuf satu ini terhambat oleh keterbatasan bahasa yang dimiliki oleh penulis 10 , jadi keterangan penulis tentang filsuf renaissance ini diambil dari buku-buku filsafat berbahasa Indonesia.

Dalam bukunya The Praise of Folly, ditokohkan seorang Putri Dewa Plutus yang bernama Folly. Sebagai tokoh utama Folly adalah sosok ilustrasi Erasmus yang banyak mengecam tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Klerus 11 Cendekiawan, ahli matematika, fisika dan sebangsanya dan beberapa aliran-aliran filsafat seperti Empirisme, Thomisme, Skolatisme dan beberapa isme-isme yang lain. Dia menekankan bahwa kebahagiaan tidak dapat diambil jika kita mengikuti salah satu dari aliran-aliran tersebut. Sebenarnya para cendekiawanlah yang mengkotak-kotakan yang mengakibatkan kehancuran bagi diri mereka sendiri.

Keyakinan Erasmus ini juga menimbulkan pertentangan dengan Martin Luther tentang tindakan Luther menentang Indulgensia Gereja Khatolik Roma, dan menuntun adanya pembaharuan di Gereja. Awalnya Erasmus mendukung tindakan Luther tentang Indulgensia ini namun karena Luther menghendaki sebuah perubahan yang menimbulkan perpecahan pada Gereja dan menghadirkan Protestan sebagai tandingan Gereja Khatolik Roma. Erasmus mulai tidak simpati lagi pada Luther karena tidak mau berdamai dan lebih merundingkan masalah ini kepada Paus. Ingatan saya berputar kembali pada dunia Islam, karena ada golongan sunni dan syiah dalam Islam terlebih lagi di Indonesia yang memilih bersikap eksklusif terhadap golongan lain diluar golongannya. Dan menganggap bid'ah segala apa yang tidak diyakininya, sikap frontal lebih ditunjukan daripada sikap berdamai dan berunding. Golongan-golongan seperti inilah yang diolok-olok oleh Erasmus dalam karyanya “The Praise Of Folly ” dengan bahasa satir tapi lebih kocak, mungkin juga disasarkan pada dirinya sendiri.

Folly juga mengkritik filsuf sebelumnya yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna dari makhluk lain karena adanya rasio, dan rasionalitas inilah kata Folly yang memisahkan manusia dengan alam (tokoh tersebut adalah Marcillio Ficino). Menurut saya yang ingin disampaikan Erasmus adalah menjalin Relasi dengan alam, jika manusia itu sama keudukannya dihadapan hukum maka tak lain semua makhluk hidup sama kedudukannya di Alam Semesta ini. Jadi teringat cerita si Mbah yang diperankan oleh WS Rendra dalam film “Lari Dari Blora”, si Mbah seorang Samin yang akrab dengan alam ketika seorang pemuda bertanya padanya mengenai bencana longsor yang terjadi didesa Samin. Dengan bijak si Mbah kurang lebih menjawab “Alam itukan butuh keseimbangan, kalian saja yang menganggap itu sebagai bencana.”

Erasmus dikenal sebagai filsuf yang mengikuti gaya retorika Cicero dan gaya hidup sederhana st. Jerome. Dengan gaya hidup seperti ini, Erasmus banyak mengkritik klerikalisme yang muncul pada masa skolastik, kaum ritualis yang mementingkan tata cara beribadah daripada pengejawantahan ibadah tersebut dalam perilaku. 12 Dari kutipan diatas entah kenapa saya terbesit tentang kehidupan dan dialog para sufi dalam Islam, pola kehidupan sufi juga sangat sederhana diceritakan pula kehidupannya jauh dari kata mewah. Dalam dialog sufi mereka lebih menekankan pada tingkat pemaknaan dan perilaku, salah satu dialog yang masih saya ingat ketika Imam desa setempat mengadakan pengajian dakwah Islam setiap minggunya Imam tersebut juga turut mengundang Imam Sufi, selang beberapa minggu setiap diundang Imam Sufi tersebut tidak pernah hadir, dari situ timbul perasaan ingin tahu Imam desa untuk bertanya mengapa Imam Sufi tersebut tidak pernah hadir dalam pengajian yang ia selenggarakan, maka berkunjunglah Imam desa tersebut kekediaman Imam Sufi kurang lebih begini dialognya :

Assalamualaikum, Walaikumsalam jawab Imam Sufi,

Maaf, saya mau bertanya kenapa anda tidak pernah memenuhi undangan saya? Kemudian Imam Sufi menjawab sebelum saya menjawab ijinkan saya bertanya terhadap anda Imam Desa?

Silahkan, Imam Desa menyilakan. Bagaimana cara tidur yang benar? Imam Desa terheran tapi tetap menjawab. Pertama yang harus kita lakukan adalah berdoa, lalu berbaring dengan badan lurus kemudian memejamkan mata.

Tiba-tiba Imam Sufi pergi meninggalkan Imam Desa. Imam Desa mengejarnya, kemudian Imam Sufi bertanya lagi. Bagaimana cara makan dengan benar? Imam Desa tetap menjawab. Pertama kita membaca doa sebelum makan lalu menyantap makan tersebut secara perlahan dan lebih baik dengan tangan kanan.

Tiba-tiba Imam Sufi pergi meninggalkan Imam Desa. Imam Desa terheran dan bertanya kenapa Imam Sufi apakah jawaban saya salah? Lalu Imam Sufi menjawab bagaimana anda dapat menjalankan cara tidur dan makan dengan baik jika hati dan pikiranmu tidak pada Allah SWT.

Dari sinilah Folly dapat mengartikan lebih kepada Rasa penjernihan hati dan pikiran, karena dengan Rasa maka kita akan dapat berperilaku dengan baik. Sering kli, orang bijaksana menempatkan rasio dan penalaran di atas passi (passion, gairah). Rasio diyakini para bijaksana sebagai kendali atas passi (gairah). Folly mengingatkan penekanan pada rasio justru membuat hidup menjadi membosankan, kering dan tak bergairah. Bahkan, filsuf yang menyatakan diri “orang bijaksana”, tak lebih dari orang-orang yang membawa kekacauan, tidak popular dan tidak disukai justru karena mereka tidak peduli pada hal-hal praktis sehari-hari. 13 Kutipan tersebut membuat ingatan saya kembali pada dialog Pelaut dengan seorang Fisuf, ilustrasi dialognya sebagai berikut :

Seorang filsuf hendak berpergian menggunakan kapal, beliau hendak pergi kesebuah Negera, katakanlah Mesir. Lalu sang filsuf naik kapal dan berlayar menuju mesir dengan seorang Kapten kapal. Dalam perjalanan tak henti-hentinya filsuf tersebut membaca buku yang memang dia sediakan untuk perjalanan ke Mesir. Selang beberapa hari sang filsuf ingin mencari udara segar dan dia keluar dari kamarnya, seketika itu sang filsuf bertemu dan berbincang dengan sang kapten kapal.

Sang filsuf bertanya kepada sang kapten kapal. Kep, apakah anda pernah belajar filsafat? Kapten menjawab “tidak pernah.” Kemudian sang filsuf menimpali “sayang sekali, sebuah kerugian bagi anda tidak pernah belajar filsafat” lalu filsuf itu pergi kekamar untuk membaca lagi.

Selang beberapa hari badai besar menerjang kapal, kapalpun tergoncang hebat oleh gelombang. Kapten kapal khawatir dengan penumpangnya diapun mengecek filsuf tersebut. Dan ternyata filsuf tersebut meringkuk takut dan berpegangan dengan tiang tempat tidur. Sang kapten bertanya. “Fil apakah anda pernah belajar berenang.” Sang filsuf menjawab dengan gemetar “tidak pernah”.

Lalu sang kapten menimpali “sayang sekali, sebuah kerugian bagi anda tidak pernah belajar berenang”.

Dialog diatas mengilustrasikan ketidakpedulian seorang filsuf pada hal-hal praktis yang ada sehari-hari. Passi (gairah) yang dianggapnya sebuah kebodohan bagi mereka yang menganggap dirinya terpelajar adalah sesuatu yang harus dihindari. Kebijaksanaan mau tidak mau membutuhkan passi karena hal ini menawarkan keceriaan dan gairah. 14 Tapi ini bukan standarisasi bahwa semua filsuf berlaku demikian, seperti halnya Cicero dan St. Jerome yang dicontohkan oleh Erasmus. St. Jerome seorang pendeta atau biarawan yang dianggap bid'ah pada masa karena membaca karya-karya Cicero, kehidupan St. Jerome sangat sederhana jauh dari kata kaya tapi kecukupan, diceritakan bahwa St. Jerome banyak dikelilingi gadis-gadis karena diskursus-diskursus yang beliau isukan cukup menarik bagi mereka. St. Jerome dicap sebagai pendeta yang bodoh karena berlaku tidak selayaknya sebagai pendeta gereja, tapi perlakuan St. Jerome seperti inilah yang dianggap Erasmus dapat membangun suatu relasi sosial kepada masyarakat bahwa pendeta gereja tidak harus berperilaku dan bersifat eksklusif.

 

 

1 Bartolomeus Samho hal 13. “Humanisme Yunani Klasik dan Abad Pertengahan” dalam buku Humanisme dan humaniora relevansi bagi pendidikan, tujuh bidang : liberal arts, tata bahasa, retorika, logika, matematika, ilmu ukur, astronomi dan music.

2 Ibid hal 14

3 B. Russel hal 572. “Sejarah Filsafat Barat”

4 Ibid hal 631

5 Templar sebelum menjadi ordo mereka adalah tentara khusus yang digunakan oleh Gereja saat perang salib. Mereka bengis kejam dan tidak mempunyai rasa ampun sementara itu mereka tidak pernah mandi sehingga saat mereka lewat diperkampungan bau dari keringat bercampur panas matahari sangat menusuk, kesetiaannya pada Gereja tidak usah dipertanyakan. Hingga pada saatnya mereka ternyata hanya berpura-pura setia terhadap Gereja, mereka sangat menyukai perang karena sering kali menjarah barang-barang berharga korbannya yang mereka bunuh yang membuat mereka kaya. Banyak isu yang menyebutkan bahwa Templar adalah cikal-bakal berdirinya secret society Freemasonry , dan ordo-ordo lain dibawahnya

6 B. Russel hal 633. “Sejarah Filsafat Barat

7 Adalah cara penebusan dosa

8 Adalah kurikulum yang dibuat oleh kaum sopis pada masa Yunani kuno. Kurikulum ini berdasarkan 7 mata pelajaran tata bahasa, retorika, logika, matematika, ilmu ukur, astronomi dan music

9 Stefanus Djunatan hal 51. “Humanisme Renaissance” dalam buku Humanisme dan humaniora relevansi bagi pendidikan

10 Penulis menguasai 5 bahasa, diantaranya : Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa Ngoko, Jawa Inggil, Kromo alus, dan sedikit Bahasa Inggris

11 Adalah Pendeta, biarawan

12 Ibid hal 56

13 Ibid hal 59

14 Ibid hal 59

 

Thu, 29 Dec 2011 @08:18


1 Komentar
image

Fri, 21 Jun 2013 @17:59

Oud

Naufaludin Ismailsaya mahasiswa fialsfat UI 2012 dan sebagai tugas ospek saya harus mendalami salah satu filsuf favorit saya dan saya memilih Immanuel Kant. sangat bermanfaat. terima kasih banyak.


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+6+9



RSS Feed

Copyright © 2017 budi dkk (085225529893) · All Rights Reserved