Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

KEJAYAAN SOPHISTIK DALAM DUNIA KONTEMPORER

KEJAYAAN SOPHISTIK DALAM DUNIA KONTEMPORER

 

Kaum Sofis dapat dikatakan sebagai kaum yang berseberangan dengan para filsuf terutama dalam pengajaran tentang filsafat. Lahir pada masa Yunani Klasik, hampir bertepatan dengan masa Socrates, sekitar abad ke-5 SM dengan tokoh pentingnya yaitu Protagoras. Kaum Sofis melalui Protagoras menganggap suatu kebenaran bersifat relatif sesuai dengan subjek yang merasakannya maka dari itu teori dari kaum Sofis dinamakan dengan Relativisme, anggapan ini menjadikan seseorang skeptis terhadap sesuatu hal. Contoh dari relativisme tersebut misalkan ada 3 (tiga) orang yang mencicipi es teh manis, orang pertama merasakan es teh tersebut sangatlah manis, orang kedua karena dirinya sedang mengalami sariawan maka tidak dapat merasakan manis edangkan orang ketiga es teh tersebut dirasa kurang manis dan harus ditambah dengan gula karena orang ketiga tersebut sangat suka manis. Dari contoh tersebut ada ungkapan yang terkenal dari Protagoras yaitu “Manusia adalah ukuran segalanya, jika manusia menganggapnya demikian maka demikianlah adanya dan jika tak demikian maka tak demikian pula”[1]

Berkaitan dengan Humanisme Klasik, Manusia lebih diarahkan untuk menuju kepada apa yang disebut manusia Ideal manusia secara kodratnya. Manusia Ideal dalam pandangan Yunani Klasik adalah Manusia yang mengalami keselarasan jiwa dan badan, suatu kondisi di mana manusia mencapai (eudaimonia) kebahagiaan.[2] Dan kemudian muncul sistem pengajaran yang disebut Paideia . Dengan sistem pengajaran ini diharapkan Manusia secara individu pada zaman Yunani Klasik bisa menjadi Manusia Ideal atau manusia yang hidup secara Kodratnya. Inilah yang melatarbelakangai berdirinya Akademia Plato.

Untuk menuju ke Manusia Ideal dibutuhkan suatu sistem pengajaran yang disebut Paideia , dengan beberapa Mata Pelajaran yang harus ditempuh. Peran kaum sofis dalam hal ini adalah membagi menjadi dua golongan kurikulum mata pelajaran yang disebut Trivium dan Quadrivium. Yang termasuk kedalam mata pelajaran Trivium adalah tata bahasa, kemampuan bicara (retorika) dan logika sedangkan mata pelajaran yang termasuk golongan Quadrivium adalah berhitung, geometri, astronomi dan musik. Kaum Sofis dengan ajarannya yang disebut Sofisme lebih mengutamakan bidang kemampuan berbicara (retorika) sebagai tandingan Akademia Plato yang lebih mengedepankan Filsafat.

Inilah yang sangat ditentang oleh para filsuf, mereka berpendapat kalau hanya kemampuan berbicara saja yang diutamakan tanpa kemampuan menumbuhkan sebuah Ide atau gagasan atau kemampuan berfilsafat sama halnya dengan orang berbicara tanpa makna atau pada peribahasa sekarang disebut “Tong Kosong Berbunyi Nyaring”. Metode Retorika Sofistik yang persuasif itu dipandang Plato sebagai upaya untuk menjauhkan khalayak ramai dari apa yang disebut kebenaran.[3]

Dalam bukunya Betrand Russel kaum Sofis diartikan sebagai mereka yang mata pencahariannya mengajar anak-anak muda dengan sejumlah hal yang diharapkan bakal berfaedah bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari karena tidak ada jaminan publik bagi pendidikan semacam itu, maka kaum Sofis hanya mengajar mereka yang mampu membayar atau orang tuanya kaya.[4]

Terlebih para sofis hanya mau mengajarkan Ilmunya hanya kepada orang-orang yang mempunyai jabatan atau orang-orang yang mau mengeluarkan uang untuk ajarannya, sehingga pada waktu itu sangat terlihat penampilan antara Sofis dan Filsuf. Dengan sistem pengajaran Sofis yang seperti ini, bahwa kaum Sofis tidak lagi mendidik rakyat tapi lebih mendidik orang-orang yang tertarik menjadi seorang Politikus dengan kemampuan bicara yang baik yang kemudian menjadi seorang pemimpin. Ya, pemimpin yang hanya mengutamakan kemampuan bicara saja tanpa membuahkan suatu kebajikan, bahwa Plato lebih berpendapat kebajikan dapat diambil dari filsafat.

Ajaran ini masih abadi dan melekat pada tiap diri manusia pada zaman modern sekarang. Ya, ajaran tentang kemampuan berbicara (retorika) masih dipraktekan pada pemimpin-pemimpin negara, malahan bisa disebut zaman ini adalah zaman kejayaan kaum sofis karena tidak ada pesaing seperti Akademia Plato pada saat ini. Terlihat pada setiap sekolah, perguruan tinggi yang para pengajarnya mengajar tanpa menguasai materi, mengajar tanpa hati. Hal ini berakibat pada anak didiknya mereka akan melakukan sesuai dengan apa yang dilakukan gurunya dulu, mengajar hanya untuk mengejar uang tapi tidak mengetahui apa arti dari pengajaran itu, mata hati mereka seakan tertutup oleh ajaran ego Sofistik.

Sungguh ironis seorang guru yang ditanya seorang murid mengenai keilmuannya, sang guru menjawab apa yang bukan jawaban semestinya.[5] Dia berpikir lebih baik berbohong demi menyelamatkan derajatnya sebagai seortang guru dibanding dengan dampak yang akan terjadi kelak. Teori Multi Level Marketing berlaku disini satu kesalahan guru yang diajarkan di kelas yang berjumlah 40 orang siswa, kesalahan setiap siswa itu juga akan menular pada siswa yang mereka ajar kelak.

Lebih luas menyangkut kenegaraan, apa yang kalian lihat tentang para pemimpin di negeri ini atau para calon pemimpin pada negeri ini?. Kemampuan bicara yang mengagumkan membuat simpatik mereka yang berfanatik dan orang yang tak berpaham hanya dijejali dengan uang. Sehingga pergeseran paradigma disini terjadi tentang Manusia Ideal sesungguhnya, yang mencari keselarasan jiwa dan badan, suatu kondisi di mana manusia mencapai kebahagiaan (eudominia ).

Coba kita lihat calon pemimpin kita pada saat Pemilu, kobaran janji mereka tebarkan, inilah Retorika yang diusung oleh Kaum Sofis yang sedang berada pada puncak kejayaannya. Karismatik yang dibawa oleh Bapak SBY membuat semua terpukau tapi pada masa jabatannya, beliau hanya bisa menimbang dan mengungkapkan kata “prihatin” tanpa ada tindakan yang konkret. Para pemimpin dunia seperti Obama pun memiliki kemampuan seperti ini, tampaknya Presiden kulit hitam pertama USA ini bisa menarik perhatian khalayak ramai dengan ungkapan “sate dan baksonya” tetapi pada masa jabatannya kasus perselisihan antara Israel dan Palestina belum kunjung penyelesaiannya, juga terakhir tindakan Obama adalah menolak keanggotaan PBB pada Palestina, Obama menghimbau Palestina agar perselisihannya dengan Israel diselesaikan dengan perundingan, Ya, dengan perundingan tanpa akhir.

Sudah barang tentu bahwa keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh keterampilan berbicara untuk membangkitkan prasangka umum, meskipun orang harus tampil berpidato secara pribadi. Ia dapat mengupah seorang ahli untuk menuliskan pidatonya atau yang lebih banyak dipilih ia dapat mengupah seseorang untuk mengajari kiat-kiat yang diperlukan agar berhasil dalam sidang pengadilan.[6]

Para ahli hukum juga berlaku demikian, siapa yang bisa membayar paling mahal walau koruptor sekalipun mereka akan memperjuangkannya sampai langit runtuh. Ingat kasus Ruminah yang diduga mencuri tiga kakao diperkebunan majikannya. Retorika Sofistiklah yang menjawab semua itu. Dalam bukunya Betrand Russell sendiri diakui situasi yang hampir serupa terjadi pada Amerika Modern, Tammany adalah organisasi Katolik yang berupaya mempertahankan dogma-dogma teologinya untuk melawan arus pencerahan, tetapi organisasi ini lemah secara politik dan disamping itu ada kelompok terpelajar seperti para pengacara yang hanya mau bekerjasama dengan orang-orang kaya. Dan ajaran kaum Sofis tentang Retorika menemukan kejayaannya pada dunia sekarang ini. 

Pertanyaannya adalah bagaimana merubah paradigma sofistik tersebut, agar retorika yang diusung oleh filsuf dapat terwujud. Apakah mungkin dengan membangun Institut seperti Akademia Plato sebagai penentang ajaran kaum Sofis ataukah dengan menyisipkan ajaran filsafat pada setiap institusi?.

 



[1] B. Russel “Sejarah Filsafat Barat”. hal. 105

[2] Bartolomeus Samho, “Humanisme Yunani Klasik”, 2008 hal. 5

[3] Ibid, hal. 9

[4] B. Russel “Sejarah Filsafat Barat” hal. 101

[5] Pengalaman Penulis

[6] B. Russel “Sejarah Filsafat Barat” hal. 103

 

Sat, 22 Oct 2011 @06:24


2 Komentar
image

Sun, 11 Dec 2011 @07:27

sumanto sang kanibal

wah, sangat menarik tulisan anda...
emang guru filsafat anda, nggak minta bayaran..., lha wong masih suka minta rokok ma muridnya... dia juga sofis...

image

Wed, 14 Dec 2011 @05:50

admin

thanks prof,memang cuma2 dlam mengajar.untuk rokok memang sering minta,ini yang saya sebut soulmate antara guru dan murid (sisi humanitas seorang guru) bisa bergaul dan menggauli dalam tanda kutip :-D


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+0+8



RSS Feed

Copyright © 2017 budi dkk (085225529893) · All Rights Reserved