Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

PERTAUTAN TEORI DENGAN PRAKSIS DALAM PEMERINTAHAN KONTEMPORER

PERTAUTAN TEORI DENGAN PRAKSIS DALAM PEMERINTAHAN KONTEMPORER

Oleh : Ady Putra Cesario

 

            Pemisahan pengetahuan dari kepentingan terdefinisikan dalam pemisahan teori dan praxis yang dianut pada ilmu pengetahuan modern. Namun pengertian tersebut berbanding terbalik dengan pemikiran pada tradisi pemikiran Yunani Purba, pengertian semacam itu tertuang dalam istilah bios theoritikos[1] .   Awal mula pemisahan pengetahuan dari kepentingan bersamaan dengan lahirnya ontology[2] , para filsuf memunculkan demitologis pemikian mitis masyarakat Yunani dan menjauhkan arti harfiah teori dari ritus keagamaan menjadi “kontemplasi atas kosmos” walaupun artinya tetap sama yaitu “memandang”. Dengan mengartikan teori sebagai kontemplasi atas kosmos, filsafat telah menarik garis batas antara Ada dan Waktu yaitu antara yang tetap dan berubah – ubah.

            Dalam filsafat modern para filsuf berlomba memurnikan pengetahuan dari kepentingan, yang terbagi dari 2 jalur pemurnian. Yang pertama lebih mengutamakan pada rasio manusia sendiri yang dipelopori oleh Plato yang bersifat apriori[3] yang terwujud dari idea-idea dan pada jalur kedua lebih mengutamakan pada peranan empiris yang dipelopori oleh aristoteles yang bersifat aposteriori[4] .

            Kemudian puncak dari pemurnian pengetahuan adalah positivisme, positivisme dirintis oleh Auguste Comte (1798 – 1857). Positivisme menganggap pengetahuan mengenai fakta obyektif sebagai pengetahuan yang sahih. Dengan menyingkirkan pengetahuan yang melampaui fakta, positivisme mengakhiri riwayat ontology atau metafisika, karena ontology menelaah apa yang melampaui fakta.

            Dari pemurnian ini sebenarnya terjadi suatu tumpang tindih antara kepentingan tersebut dengan apa yang dikatakan nafsu – nafsu manusiawi. Artinya apa ketika terjadi suatu pemurnian antara kedua hal tersebut berarti tidak ada ikatan pertautan antara keduanya padahal teori pada dasarnya memiliki kekuatan emansipatoris[5] . Bisa diandaikan kekuatan yang dimiliki teori dalam hal ini apabila terjadi pemurnia atau positivisme. Penindasan – penindasan, pembohongan – pembohongan yang tersembunyi tidak bisa dihindarkan pengetahuan yang seharusnya digunakan untuk merubah praxis atau kenyataan menjadi lebih baik malah terjadi ketimpangan karena adanya kepentingan diatasnya.

            Dari sinilah para filsafat kritis seperti Hokheimer dan adorno mulai menghubungkan kembali “teori dengan maksud praxis”. Didalam teorinya “Traditionelle und kritische Theorie ” (Teori Tradisional dan Teori Kritis). Mereka sama – sama bertujuan mengaitkan rasio dengan kehendak, riset dengan nilai, pengetahuan dan kehidupan, teori dan praxis . Dalam artikelnya Hokheimer menyebutkan bahwa teori dengan dasar rendah maka teori itu dengan kata lain siap digugurkan dengan fakta yang ada, dan berlaku sebaliknya jika teori yang memiliki dasar yang kuat maka teori tersebut siap merubah fakta menjadi lebih baik.

Sejarah singkat Teori Kritis

            Pemikiran Kritis tidak bisa dipisahkan dari latar belakang pemikiran Karl Marx, karena sejarah perkembangan teori kritis awal mulanya mengkritisi karyanya yaitu Das Kapitalis yang sudah dibekukan menjadi ideology Uni Soviet.

Dalam karyanya, Das Kapitalis Karl Marx mengatakan bahwa system ini akan gugur dan hancur oleh dirinya sendiri dan akan muncul system baru yaitu Sosialisme. Pada tahun 1891 di Erfurt menjadikan pandangan Karl Marx menjadi dasar gerakan partai mereka. Friedrich Engels sahabat kental Marx berasil memopulerkan pandangan ini sampai dapat diterima oleh gerakan buruh internasional.

Setelah Perang Dunia I ramalan Karl Marx rupanya tidak kunjung terealisasikan, tidak ada system baru, tidak ada zaman baru yang dulu digadang – gadang marx yaitu sosialisme. Para filsafat kritis mulai mengkritik dan menyarankan supaya system ini menyesuaikan dengan kenyataan yang ada. Eduard Berstein, berpendapat bahwa system kapitalisme mampu membenahi diri dan mampu membenahi diri dengan keadaan baru. Namun gerakan merevisi system ini ini nampaknya merupakan gerakan pengantar para pemikir kritis menuju neraka, pasalnya gerakan ini tidak diamini oleh para Marxisme Ortodox[6] . Gerakan merevisi system ini sama halnya murtad dalam ajaranya. Namun Negara Jerman dan Negara kapitalis-industri berasil meredam krisis yang diharapkan oleh para pendukung marx.

Pada 7 Oktober 1917[7] berdirinya Uni Soviet membuat gerakan buruh terpecah menjadi dua. Patai Sosial Demokrat yang kehilangan sifat marxisnya, dan Partai Komunis yang makin memperdalam determinisme ekonominya[8] . Stalin sebagai pengganti Lenin menjadikan pemikiran marxis dan lenin menjadi ideology resmi soviet yang menganggap berbahaya kritik emansipatoris. Dari system yang bisa dikatakan penindasan besar – besaran ini membuat para cendekiawan tinggal marginal, karena mereka tidak mau memilih diantara keduanya. Antara Partai Komunis yang kehilangan pesan ajaran marx “membebaskan manusia yang tertindas dan democrat yang kehilangan sifat revolusionernya.

Tindakan para Filsafat Kritis

Dari sinilah para filsafat kritis tidak membiarkan adanya penindasan dengan kedok kepentingan umum. George Lukacs (1885-1971) Geschiehte und Klassenbewusstsein, dan Karl Korsh (1889-1961) marxisme dan filsafat, 1923 yang sama – sama ingin menekankan peranan kesadaran kelas proletariat dan mengarah diri pada fenomena superstruktur yaitu pengetahuan dan ideology yang mengakibatkan perubahan struktur kesadaran.

Kedua filsafat itu menggairahkan para filsuf lain, apalagi pada tahun 1932, seorang marxis yang menjabat direktur institut Marx Engels di Moskwa, David Ryazanov menerbitkan Paris Manuscripts[9] yang terlarang di dunia komunis.

Sebuah teori yang menurut saya sangat humanis ketika teori tersebut ingin mengangkat sebuah kesadaran kaum bawah atau proletar namun disinilah kekejaman sebuah system Stalin, mereka melakukan pembersihan teori marxisme ortodoxs dengan melumpuhkan “Lukacs dan Korsch” yang tidak idependen namun mereka tetap mempertahankan pandangannya kemudian para filsafat kritis itu ditendang keluar partai.

Kelumpuhan filsafat kritis segera disusul oleh marxisme gelombang kedua. Teori yang dikeluarkan hokheimer memang berkaitan dengan konsep reifikasi Lukacs. Dalam merampungkan teorinya hokheimer berkerjasama dengan universitas diluar negeri. Di Amerika Serikat di universitas Columbia Hokheimer dan Adorno merampungkan teorinya Dialektik der Auflarung (Dialektika Pencerahan, 1947) yang merefleksikan “barbarisme baru[10] ” selama panguasaan Nazi dan Fasisme pada umumnya.

Dari sejarah diatas sifat kritis sebenarnya ada didalam setiap person namun konteks kesadaran yang dimiliki setiap person masih minim, itu karena mereka tidak berusaha membersihkan unsur – unsur yang berubah – ubah melainkan malah ikut didalam unsur tersebut. Dengan ilmu pengetahuan dan ideologi kesadaran tersebut menurut saya bisa tumbuh dengan sendiri.

 

 

 



[1] Bios Theoretikos merupakan suatu bentuk kehidupan, suatu “jalan” untuk mengolah dan mendidik jiwa dengan membebaskan manusia dari perbudakan oleh doxa (pendapat) dan dengan jalan itu manusia mencapai otonomi dan kebijakan hidup.

[2] Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia” berarti cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan sifat makluk atau kenyataan, “Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Jakarta, 1988”.

[3] Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia” berarti sebelum mengetahui (melihat, menyelidiki, dsb) keadaan yang sebenarnya: kita tidak boleh bersikap, “Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Jakarta, 1988”.

[4] Berbeda dengan apriori, yang berspektif bahwa pengetahuan sejati adalah pengetahuan tunggal yang tidak berubah – ubah dan tugas kita hanya membersihkan dari unsure yang berubah – ubah ( nafsu – nafsu manusiawi ) sedang aposteriori kita bertugas mengamati yang berubah itu saja lalu melakukan pembersihan dari abstraksi ke universal.

 

[5] Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia” artinya pembebasan dari pembudakan, persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan, “Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Jakarta, 1988”.

[6] Penganut Karl Marx dengan sistemnya “Das Kapitalis ”.

[7] Dalam penanggalan rusia lama, namun jika dalam kalender pada umumnya 7 November 1917.

[8] Pandangan InternasionalII yang tak lain dari penafsiran positivistic atas ajaran Marx dalam Das Kapitalis .

[9] Paris Manuscripts merupakan naskah Karl Marx pada tahun 1844 di Paris. Dalam naskah ini berbeda sekali dengan teori Das Kapitalis saat itu, naskah ini sangat humanis sejati. Dari perbedaan ini marx dibedakan menjadi dua, yaitu marx muda dan tua.

[10] Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia” artinya perbuatan yang tidak sesuai dengan tata aturan peradaban “Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Jakarta, 1988”.

Sat, 22 Oct 2011 @06:16


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+2+4



RSS Feed

Copyright © 2017 budi dkk (085225529893) · All Rights Reserved