Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Online



widget

Traffic

Jam Berapa?



Facebookan Yoooh!!
SLINK

Kebudayaan Hellenisme dan Filsafat Pasca-Aristotle

Kebudayaan Hellenisme dan Filsafat Pasca-Aristotle

Oleh Eko Mukminto

 

Alexander dan Pan Hellenisme

Setelah Kematian Plato dan Aristoteles , filsafat di Yunani   di dominasi beberapa Sekolah Filsafat kenamaan, Seperti  Academia, Peripatos, Stoic, dan Epikurean ,   berbeda dengan pelajar-pelajar  filsafat  pada zaman Yunani sebelumnya yang dikuasai oleh para pria, di zaman ini para wanita pun juga banyak gandrung untuk menjadi belajar filsafat . Bahkan terjadi   pergeseran studi  filsafat pada zaman ini lebih cenderung meninggalkan  metafisika dan lebih kearah materialisme.

Pengaruh kondisi sosial-politik tak dapat ditampik mempunyai andil besar dalam hal filsafat, begitu juga sebaliknya, pengaruh filsafat pasca Aritoteles dapat dikatakan juga mendapat pengaruh dari sosio-politik yang terjadi pada masa itu. Perubahan tersebut tak dapat disangkal menunjuk pada peran raja ambisius Alexander dari Macedonia yang telah menaklukkan   Yunani dan daerah-daerah lainnya. Sehingga secara garis besar Yunani dapat dikatakan dapat dibagi dalam sebuah rentang sejarah, zaman klasik dan jaman Hellenistic , jaman Hellenistic ini merupakan warisan dari imperium Alexander The Great (356–323 B.C.) dari Macedonia.

Alexander adalah putra raja Philip dan Olympias  dari Macedonia, Hanya dalam jangka waktu 10 tahun, dan dimulai di umur yang sangat muda (20 tahun), ia   telah membangun   sebuah kekaisaran dari Asia minor , Siria, Mesir, Babilonia, Persia, bahkan sampai Punjab. Kekaisarannya mencapai 20 juta mil persegi dari tiga benua[1] , Dalam membangun imperiumnya Alexander, mempunyai misi menyatukan kebudayaan daerah-daerah koloninya yang membentang dari Asia minor sampai Punjab, dengan alkulturasi antara kebudayaan Romawi dan Yunani ataupun Mesir[2] .

Penaklukkan Alexander memang terbilang sangat singkat yaitu hanya 10 tahun , begitu juga dengan bertahannya imperium, hanya 12 tahun, hal tersebut di karenakan  ia mangkat diusia 32 tahun. Penerusnya, anak Alexander sewaktu ia Mangkat masih berusia balita, perang saudarapun tak terelakan, para panglima perangnya akhirnya membagi kekaisarannya, menjadi tiga:  Asia,Eropa, dan Afrika.

Hellenistic sendiri   adalah sebuah gabungan dari tradisi sosial-kultural Yunani dengan daerah-daerah koloni imperium Alexander, terminologi nya sendiri berasal beberapa panglima perang Alexander setelah kematiannya,   pengaruh alkulturasi dari semangat Hellenis yang ditanamkan dapat kita lihat pengaruh dalam masuknya mistisisme dari timur ke Yunani dan orang-orang timur mendapat pengaruh dari ilmu pengetahuan orang Yunani.

Pengaruh astrologi terhadap orang-orang Yunani pun merebak, dari rakyat biasa hingga para filsufnya mempunyai keyakinan pada par bintang-bintang yang dianggap dapat mengetahui dan meramal masa depan, sehingga nasib dan takdir pun niscaya dapat diraba[3] .

Dari segi politik, Yunani yang awalnya berbentuk Polis dengan bentuk pemerintahan berupa republik pun dibawah kekaisaran Alexander , secara langsung berubah menjadi monarki, hal ini pun menyebabkan sebuah kegoncangan sosio-politis, karena seperti kita ketahui Yunani dengan Polis sangat tidak mengetahui atau mempunyai pengetahuan minim tentang system kerajaan, bahkan Aristoteles yang pernah hidup dimasa raja Philip pun pernah mengecam monarki karena dianggap system pemerintahan orang Barbar, karena diandaikan bahwa orang yang hidup dibawah monarki adalah orang yang tidak mampu mengurus hidup dan masa depannya sehingga harus tunduk pada kekuasaan raja sebagai pelindung dan pemimpinnya[4] .

Sistem kerajaan ini pun akhirnya mewabah ke daerah-daerah koloni, tak terkecuali Yunani, kota-negara (polis) pun berubah, ia memiliki seorang raja[5] , yang patuh pada kaisar Alexander di Macedonia, hal ini berarti semua bentuk kekuasaan menjadi terpusat, ekonomi pun menjadi terpusat, daerah-daerah jajahan diharuskan membayar upeti dan pajak ke pemerintahan pusat, Maka di setiap negeri jajahan terdapat administrator, yang memungut pajak dan mengirimnya ke pusat, sebagai contoh di daerah kekuasaan Ptolomeus, di Mesir, Yang terkenal ketat memberlakukan pajak antar 50, 33/5, 35, atau 20 persen tergantung dari barangnya.

Kota dan daerah jajahan yang mempunyai system sosial dan ekonomi yang terpusat tadi pun akhirnya ingin mengimbangi ekonomi pemerintah pusat, dengan membentuk aliansi ekonomi diantara negri jajahan, semisal liga Aechean di poloponesia, yang membuat institusi yang menentukan sebuah ukuran dari berat dan bahkan untuk mata uang.

Raja-raja di negri jajahan pun menjadi lebih berkuasa, bahkan mereka pun banyak mendirikan kota-kota baru untuk menganggungkan kejayaan mereka sendiri dan  juga  membuat kebiasan dan adat sendiri yang dapat mendukung  kebijakan dan pemerintahan mereka, mereka mebuat kebijakan sendiri di negri jajahan, membuat pemukiman di kota-kota dengan aristektur Yunani, seperti Gymnasium dan Teater, bahkan ketika sebuah kota atau polis yang mempunyai dewan kota dan konsul yang mempunyai hak politik  pun di batasi[6] .

Agar kekuasaan mereka dapat bertahan, maka mereka membutuhkan kalangan atas dan elit untuk memperlancar  jalannya ekonomi dan mempertahankan arus pajak, dan bahkan di mesir para raja ini mempunyai peran sebagai pendeta atau rahib yang memimpin sebuah kuil dan ritual ibadah, hal ini dikarenakan di Mesir, sebuah kuil, mempunyai pengaruh pada sebuah pertanian dan mengontrol para petani.

Masyarakat Hellenis, terbagi dalam beberapa lapisan, kalangan atas ditempati keluarga raja dan para orang-orang di lingkaran dalam raja, orang-orang kaya dan para urban menempati posisi yang , bisa dibilang tinggi,  di kalangan bawah terdapat para pedagang, petani dll, wanita juga menempati lapisan  yang tinggi di piramida sosial. Dalam masyarakat sosial Hellenis, pada pemerintahan Ptolemus, misalnya memperbolehkan perkawinan antar saudara (incest ) dalam kalangan kerajaan.

Seperti telah kita lihat pemaparan diatas, peranan politik yang sentralistis dan berkembangnya kota-kota baru, membuat peranan Negara-kota (polis) di Yunani menjadi meredup, tak terkecuali peranan para filsuf yang dimasa sebelumnya dominan di ajang politik kemudian dimasa pemerintahan dikuasasi oleh Macedonia membuat mereka harus menyingkir dari panggung politik.

  Filsafat politik yang sebelumnya digandrungi mulai ditinggalkan, para filsuf lebih mencurahkan perhatiannya pada hal-hal yang bersifat materialism, seperti keselamatan dan kenikmatan individu dan terisolasi dari sosial, Tak ayal jika muncul para pemikir-pemikir yang sinis dan skeptic tentang hal-hal yang bersifat politis.

Jika kita lihat pada seni dan budaya, para pematung dan pelukis pada masa Hellenistic, karya-karya mereka terkesan membawa pesan emosional individual, berbeda dengan seni dimasa sebelumnya, yang menampilkan patung-patung dengan kontur dan gesture yang ideal[7] .

Diogenes, salah seorang murid Astinethes, seorang sinis, ia menolak semua konvensi seperti agama, adat istiadat,  sampai sopan santun, ia pun menyatakan bahwa hal-hal yang duniawi tak ada bernilai harganya,   sebagai seorang yang sinis, nampak sebuah ketidakpuasan akan realitas yang terjadi dalam keseharian.

 

 

Batal

Terjemahan Inggris - terdeteksi ke Bahasa Indonesia

Skeptisisme, pertama kali diajarkan oleh Phyrro, Para skeptis bersumsi bahwa setiap kemungkinan- kemungkinan akan pengetahuan manusia adalah  sangat terbatas dalam lingkup dan aplikasi. jadi manusia tidak akan mencapai kesejatian,  manusia harus dapat  melatih suspensi pemahaman, yang merupakan suatu hal yang tidak akan kita mengetahuinya [8] Dan seorang skeptic cenderung untuk membuang semua ajaran dan dogmatism [9] . Filsafat pada zaman ini pun mempunyai banyak pegiat dibandingkan pada zaman-zaman sebelumnya , ada beberapa aliran   yang berkembang di masa itu , yaitu Epikurean dan Stoics.

 

Aliran Epikurean : mencari kenikmatan dalam kecukupan

Aliran ini didirikan oleh Epikuros (341-271 SM) , Epikuros adalah orang yang tidak mau berpolitik, ia mempunyai semboyan “Hidup dalam Kesembunyian”,menarik diri dari khayalak ramai,  seperti layaknya filsuf-filsuf pada zaman Hellenis lainya, filsafat Epikuros lebih mementingkan hidup individual daripada sosial.

Kebahagiaan adalah inti dari ajaran Epikuros, ia menyamakan sebuah kebahagiaan (Happinnes ) dengan kenikmatan (pleasure), bagi Epikuros, segala sesuatu yang tidak menyenangkan dalah tidak baik, dan sesuatu yang menyenangkan dan meberi kenikmatan adalah sebuah kebajikan, Hal ini memang mirip dengan Hedonisme, tetapi Hedonisme Epikuros berbeda dengan kaum Astripp, kenikmatan bukan dimengerti sebagai hal yang material, tetapi lebih kepada yang sepiritual, nikmat, bukanlah makan yang enak, tetapi makan yang cukup, ia mementingkan segi keseimbangan dari sebuah hakikat kenikmatan, begitu juga dengan  hal-hal yang mewah bukan berarti hal-hal yang mewah tersebut identik dengan kenikmatan.

Ia pernah menyatakan Bahwa “permulaan dari kenikmatan adalah perut; bahkan kebijaksanaan dan kebudayaan harus dikembaikan pada hal ini.[10] , kenikmatan batin sesungguhnya adalah saripati kenikmatan atas tubuh. Jadi kenikmatan mental akan lebih mendorong pada penyesuaian dan penambahan kenikmatan yang jasmani.

Kenikmatan bukanlah sebuah kepuasan, tetapi lebih pada keseimbangan, makan pada saat lapar, adalah kenikmatan. Jadi pembebasan dari rasa lapar itulah yang dimaksud dengan kenikmatan, sebuah keadaan lepas dari rasa tidak menyenangkan. Disini diandaikan  terlihat bahwa kenikmatan adalah sebuah penguasaan atas diri.

Epikuros disini juga menekankan pada aspek kesederhanaan, sebuah hal yang dari hal-hal yang harus diandaikan terlepas dari surplus/kelebihan, dan ia pun menegaskan sebuah pencapaian kebahagian adalah kebahagiaan individual, seorang yang bijak dalam perspektif epikuros adalah orang yang dapat membatasi keinginan dan kebutuhan, dan tidak menambah kebutuhan dan dari keterbatasan tersebut ia dapat mencapai artikulasi kenikmatan.

Aliran Stoics.

Aliran Stoic  didirikan oleh Zeno dari Cytium , seorang Phoenicia, pada 300 SM, Stoic sendiri diambil dari nama tempat para filsuf brkumpul berarti  Tiang yang berwarna warni[11] , aliran Stoic lebih menekankan pada aspek materi daripada aspek spiritual, hal-hal yang materiil lebih diutamakan. Bahkan kosmologi kaum Stoic, adalah monism, bahwa Tuhan dan alam merupakan sebuah kesatuan, manusia , binatang dan dunia adalah sebuah kemanunggalan dengan alam semesta. Pandangan mereka atas dunia dan isinya adalah determinisme, jadi segala hal yang ada didunia ini telah di tentukan oleh hukum-hukum alam yang menggerakan alam semesta, jadi tindakan manusia akan menyesuaikan diri dengan alam.

Identitas Manusia ditentukan dengan keselarasannya dengan alam, Kaum Stoic menggunakan OIKEOSIS, yang berarti “mengambil sebagai milik”, hal ini mengartikan bahwa jika manusia ingin mewujudkan identitasnya sebagai manusia yang utuh, maka ia harus mengambil alam semesta menjadi bagian dari hidupnya, dimunlai dengan tubuhnya, kemudian lingkungannya, yang akhirnya ia alam semesta, yang kemudain hal tersebut dianggap sebagai sebuah kesatuan antara tubuh dan realitas.

  Dari kosmologi tersebut diatas dapat  kita tarik sebuah Etika dalam pemikiran kaum Stoic, tentang yang baik dan yag buruk, jika seorang manusia tidak mau menyesuiakan dengan alam maka dari itu tindakannya adalah tindakan buruk, dan yang baik adalah tindakan yang mau menyeseuaikan dirinya dengan alam semesta.

Tetapi bagaimana hal tersebut dapat dimungkinkan ketika ada sebuah doktrin “determinisme” bahwa segala sesuatu hal tersebut telah ditentukan dengan pasti. Jadi disini semua hal tentang tindakan akan mengungkapkan diri manusia, dengan melakukan penerimaan bahwa alam adalah sebuah kesatuan yang dirinya tak dapat dihindari, maka kebijaksannaan akan dimaknai dengan sebuah penerimaan[12] .

Dari pemaparan diatas dapat kita lihat bahwa kebebasan dalam konsepsi mazhab Stoic, mengadaikan sebuah penerimaan total, sebuah penundukan, dalam penerimaan/penundukan  oleh determinan hukum alam adalah kebebasan, karena tak ada yang diluar keniscayaan akan hukum alam, dan kerelaan adalah sebuah kunci menuju kebebasan, ia kan merasa dituntun oleh takdir, maka dalam kehendak dan tindakannya takkkan adan yang menentang,( karena ia bagian dari takdir) dalam hal tersebut manusia akan menemukan dirinya.

Berbeda dengan Epikureanisme, kaum Stoic, lebih mengutamakan kesatuan dengan kehedak alam daripada menentangnya atau melarikan dari takdir, jika ia ditakdirkan menderita maka dengan menerima penderitaan dan tidak melarikan diri, dengan mencari kenikmatan, sebagai lawan penderitaan, maka ia akan mengerti dari apa yang dimaksud oleh hukum alam .

Letak kenikmatan bagi kaum Stoic, terletak pada kehendak dari kewajiban moral, mematuhi kehendak moral mengindikasikan sebuah  keutamaan, maka tindakan bukan berarti harus selalu sama dengan hukum moral, yang walaupun kita tak dapat mengelaknya, tetapi semua kehendak harus dilaksanakan demi mematuhi moral.

Maka kebijaksanaan sama halnya dengan mengalahkan dorongan nafsu, dan mengutamakan sebuah moral, yang mengandaikan sebuah keselarasan antara dirinya dengan hukum-hukum alam. Keselarasan tersebut akan menghantarkan jiwa pada ketenangan batin dan jiwa, kaum Stoic mempunyai sikap mental yang teguh dalam menghadapi dunia yang fana ini, dan jika dihadapakan pada sebuah keadaan yang tak dapat  di selaraskan atau di terima lagi, maka pilihannya (dalam perspektif Stoic), maka jawabannya : Bunuh Diri ![13]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Debra Skelton dan Pamela Dell, Great Empire of the Earth :Empire of The Alexander The Great , File fact inc. New York, 2005, page.5

[2] Alkulturasi tersebut  tersebut dilakukan sebagai politik Alexander dalam mempertahankan keutuhan wilayahnya yang sedemikian besar, mengingat jumlah pasukan dan luas wilayah jajahan, sehingga tercampurnya kebudayaan akan memperat pertalian antar rakyat dari berbagai daerah, bahkan agar kepentingan religius tidak salahi, maka dilakukanlah sebuah analogi antar para dewa, ia bahkan menganalogkan Zeus dengan Ammon (Hal tersebut tidaklah sulit karena antar ajaran Polithesime mempunyai banyak kemiripan). Lihat Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat dan kaitannya dengan kondisi Sosio Politik dari zaman kuno hingga sekarang , diterjemahkan . Oleh Sigit Jatmiko Pustaka pelajar, hal.299 dari History of Western Philosopy and its connectionwith political and social Circumstance From earliest time to Present day, 1946.,

 

[3] Bertrand Russel, Ibid. pg.309

[4] N.G.L Hammond, Macedonia Imprint to Hellenistic World, Hellenistic History and culture, edited by Peter Green, University of California Barkeley Press, 1993

[5] Raja-raja tersebut bukanlah seorang yang memang dilahirkan dari trah raja, yang memiliki darah biru atau bangsawan , tetapi sebenarnya mereka adalah jenderal-jenderal dan panglima perang Alexander yang ditunujk sebagai penguasa local.

[6] Thomas R. Martin, Ancient Greece : From Pre-Historic ke Hellenisme Times, Yale University Press, New Haven, 2000, page. 207

[7] Ibid.211

[8] [8] http://www.philosophypages.com/hy/2w.htm

[9] Charles Landesman dan Roblin Meeks, philosopicsl scepticsm, oxford,2003 page 24

[10] Bertrand russel, Opcit.322

[11] Franz Magniz-suseno, 13 Tokoh Etika dari Yunani sampai abad 19 , Pustaka Pelajar, kanisisus, hal 55.

[12] Sperti apa yang ditulis Oleh Seneca : “Ducunt volentem fata, nolentem trahunt ”, apabila kau menyetujui takdir , ia akan membimbingmu, jika tidak maka ia akan memaksamu. Lihat Franz magniz suseno, Ibid. hal.57

[13] Zeno , Seneca, adalah orang –orang Stoic yang pada akahirnya tak dapat lagi menerima dan menyelaraskan anatara kehendak dan takdir, mereka membunuh diri mereka sebagai pilihan terakhir. Lihat franz Magnis Suseno, ibid. hal.60

Sat, 22 Oct 2011 @06:11


2 Komentar
image

Thu, 10 Nov 2011 @05:05

akatsukinoasahiyuki

keeerrreeenn.....

image

Wed, 14 Dec 2011 @05:35

admin

makasih komennya mas


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+5+3



RSS Feed

Copyright © 2017 budi dkk (085225529893) · All Rights Reserved