Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

PLATO SANG TOTALITARIAN

PLATO  SANG TOTALITARIAN

              Oleh Eko Mukminto

 

 

Riwayat Hidup singkat

Salah satu murid Socrates yang kesohor serta   filsuf yang mempunyai pengaruh besar dalam filsafat barat adalah Plato dan selain sebagai murid, Plato juga salah satu sahabat dekat socrates, Plato lahir di Athena (429-347 SM) [1] adalah seorang anak aristokrat Athena, ayah Plato, Ariston yang jejak keluarganya   memiliki hubungan darah dengan Codrus Raja terakhir Athena  membuat keluarga Plato[2]   mempunyai status tinggi di Athena kala itu, Plato juga hadir ketika Socrates di seret ke pengadilan untuk  mendapat hukuman  dari para juri dan warga Athena karena dituduh menghasut anak-anak muda di Athena dan juga dianggap menebarkan agama baru yang bertentangan dengan agama resmi Athena, yang kemudian Plato   tulis dalam sebuah dialog yang berjudul Apology .

Setelah kematian sang guru, Plato pun melalang buana, berjalan kemana kaki melangkah, plato mengunjungi  mesir untuk mencari kebijaksanaan, dia pernah menjadi guru Alexander the great. Sekembalinya dari petualanganya ia pun mendirikan academia, sebuah sekolah bagi para pemuda –pemudi Athena.

Tulisan-tulisannya berupa dialog-dialog, dan yang paling sering ditampilkan adalah Socrates, sang guru. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Republic yang terdiri dari 8 buku. Yang ia uraiakan tentang suatu keadan yang ideal.

Semua tulisannya selalu merujuk pada sang guru, Socrates, dan selalu berbentuk dialog-dialog, dan dapat dikatakan sangat Socrates.

Plato menghabiskan sisa umurnya yang empat puluh tahun di Athena, mengajar dan menulis ihwal filsafat. Muridnya yang masyhur, Aristoteles, yang jadi murid akademi di umur tujuh belas tahun sedangkan Plato waktu itu sudah menginjak umur enam puluh tahun. Plato tutup mata pada usia tujuh puluh.


Politik Sparta dan pengaruhnya terhadap filsafat politik Plato

Sejarah awal Sparta kita bergantung pada legenda, Sparta diceritakan  didirikan oleh Lacedaemon, putra dari Zeus dan Taygete, yang menikah dengan Sparta, putri Eurotas. Dari Homer kita tahu cerita tentang "koili Lacedaemon " (lembah Lacedaemon), suatu wilayah diantara gunung Taygetos dan Parnon, yang mempunyai Raja Menelaos yang merupakan adik dari Agamnenon, suami dari Helen yang diculik oleh Paris ke Troy[3] , Sparta berada didaerah Laconia yang berlokasi dikawasan Peloponessus bagian Tenggara, orang Sparta menaklukkan Daerah tersebut dan menjadikan penduduk setempat menjadi Budak yang mereka Sebut Helots.

Sparta dan Athena adalah dua polis yang sangat berbeda[4] , Secara ekonomi,   sementara orang Athena dari semua  kalangan sosial dapat terlibat dalam penuh   berbagai kegiatan ekonomi , kegiatan pertanian dan lainnya yang  mungkin  dapat menghasilkan   pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kekayaan, hanya kelompok kecil dan erat warga Sparta hidup dari   surplus pertanian yang dihasilkan oleh  budak –budak  dan warga Sparta tidak diperbolehkan untuk mengejar  dan menambah kekayaan pribadi, sedangkan secara kemiliteran, Sparta penuh dengan para tentara terlatih sejak usia dini, sedangkan Athena para tentara mereka direkrut dari warga sipil yang tak terlatih.

Sejarah Sparta melalui sebagian besar periode klasik sebuah   kesuksesan , Setelah mendominasi Yunani , Peloponnese sejak pertengahan abad ke- keenam   di 480-479 SM diakui sebagai pemimpin dari negara Yunani yang menentang Persia , Polopponesia d engan 404 Sparta telah menaklukkan Kekaisaran Athena dan   Dia tetap menjadi kekuatan terbesar di Yunani tunggal di 371 SM .

Sejak Zaman Kuno Sparta memang sangat tertarik dengan keberanian, fisik yang kuat dari para warganya, kekuatan militer  yang tangguh, dan Sejarah Sparta penuh degan cerita-cerita epic serta heroism, bahkan ada yang mengatakan  bahwa para warga Sparta tidaklah terlalu cerdas, tetapi kabar tersebut segera di tangkis oleh Thucydides, ia menulis  Brasidas, seorang tentara yang gagah berani dan juga seorang politikus handal.

Konstitusi Sparta di kukuhkan oleh Lycurgos[5] , sebelum mengkukuhkannya ia mencari perbandingannya ke berbagai tempat ia juga menyukai Undang-Undang di Kreta yang simple dan lugas, Di Mesir ia mempelajari diferiansi antara golongan serdadu dengan golongan lainnya, sekembalinya dari perjalannya ia pun mempraktiknya di Sparta, Ia membedakan antara para pedagang dan buruh menjadi golongan tersendiri, ia pun membagi tanah secara merata, menghapus mata uang dari emas dan perak dan menggantinya dengan uang dari besi .

Lycurgus pun menyuruh agar anak-anak yang baru lahir diseleksi , jika anak-anak tersebut sehat maka anak tersebut berhak diasuh dan dipelihara tetapi jika anak tersbut setelah diteliti maka anak tersebut akan dibuang ke sumur, hal tersebut dimaksudkan untuk memertahankan keturunan orang Sparta yang gagah dan tangguh, hal ini mirip kejadian ketika Jerman dibawah kekuasaan Nazi Hitler yang menerapkan politik eugenetika, anak-anak yang lahir cacat akan diseleksi mana yang diperbolehkan hidup dan mana yang tidak.

Sewaktu Athena kalah perang dengan Sparta dalam perang Poloponesia, ia menunjuk pada kelemahan dari system demokrasi di Athena sebagai sebab dari kekalahan, jika kita merujuk pada Apology, sang Guru—Socrates pun di matikan oleh para juri dengan system yang menganut paham demokrasi[6] .

Plato yang hidup di Athena, sangat mengaggumi kehidupan warga Sparta, Bertrand Russel (1946), mengemukakan bahwa pemikiran filsafat plato yang terkandung dalam karya besarnya The Republic, dipengaruhi oleh Pythagoras,Parmeneides,Heraklitus, dan Socrates.

Pythagoras mempengaruhi Plato dari segi kecenderungan religius, imortalitas, adanya dunia yang lain (transendensi) kemudian dari Parmenides, ia memperoleh keyakinan bahwa realitas bersifat kekal dan tak terbatas, sedangkan dari Heraklitus bahwa pengetahuan kita yang kita dapat dari penginderaan hanyalah semu, tak ada yang tetap dalam dunia ini.

Karl popper dalam bukunya yang terkenal The open Society and its enemies, figure Plato digambarkan sebabai sosok yang anti demokrasi[7] , dalam Republic [8] , Plato selalu mengkritik rezim demokratis. Dia mengklaim bahwa rezim demokratis adalah rezim yang tidak adil, rezim dengan kesempatan, tetapi tidak oleh kapasitas, rezim yang menyebabkan pergolakan dan kebingungan di kalangan masyarakat. Rezim demokratis adalah seperti sebuah rezim mainan: orang dapat mengubah administrasi semua waktu dan terlalu banyak pilihan yang akan memimpin orang-orang kebingungan. Demokrasi membuat miskin semakin miskin dan kaya kaya.

Negara ideal, bagi Plato, harus cukup kecil dan adil yang memadai. Negara terlalu besar akan sangat sulit untuk memerintah. Dengan adil memadai, Plato ingin berarti bahwa kebutuhan material harus sama-sama dibagi oleh tiga kelas negara, milik pribadi tidak diperbolehkan untuk semua tiga kelas. Meskipun pedagang adalah untuk mendapatkan kebutuhan material, Plato tidak memungkinkan kelas ini untuk merangkul semua penghasilan mereka, merekai harus sama-sama berbagi. Cukup makanan, keluarga, dan memuaskanuntuk semua orang, kita tidak tidak perlu lebih dari ini perlu materi. Semakin banyak yang kita miliki, lebih banyak ketidakadilan dan korupsi kita menjadi.

Dalam the republic buku ke 8 paragraf 543a, Plato menuliskan dialog antara socrates dan Glaucon, yang bercengkrama tentang bagaimana rezim yang tidak adil dan kemrosotan moral individu dan bagaimana hubungan antara kota dan individu ini saling mempengaruhi, sedang pada pada paragraph 545, ia menjelaskan bagaiaman resim timokrasi muncul dari aristokrasi [9] .

Socrates : Very well, Glaucon. The agreed characteristics of the city which is to

reach the peak of political organisation are community of women, community of children and the whole system of education, community likewise of everyday life, both in wartime and peacetime, and the kingship o f those among them who have developed into the best philosophers, and the best when it comes to war.'

 

Yes/ he said, *those are the agreed characteristics.'

'What is more, we also agreed that when the rulers assume power, they

will take the soldiers and move them to housing of the kind we described earlier - common to all of them, and offering no private property to anyone.1 And in addition to the nature of their housing, we even reached agreement, if you recall, on the kind of possessions they will have,i do recall. thought that none of them should have any of the possessions which most people nowadays have. They should be guardians and warrior-athletes of some sort, receiving from the rest of the citizens, as annual pay for their guardianship, just as much maintenance as they need for this purpose. Their duty would be to protect themselves and the rest of the city

/

 

at any rate. You said we should look at their faults, and at the individuals

who resemble them, so that when we had examined all the

individuals, and reached agreement on which was the best and which w^s

the worst, we could ask whether the best individual is the happiest and

b the worst the most wretched, or whether that's all a mistake. I asked you

which four regimes you meant, but then Polemarchus and Adeimantus

interrupted, and that started you on the discussion which has brought

you here.

 

'What an excellent memory!'

i n which case, could you do what a wrestler does when he offers his

opponent the same hold again? If I ask the same question again, try and

give me the answer you were going to give me then/

'Certainly/ I said. 'Assuming I can, that i s/

'Apart from anything else, I have reasons of my own for wanting to

know which four regimes you meant/

c 'There will be no difficulty in telling you that. They even have names,

the ones I'm talking about. There's the one which is pretty generally

approved, the Cretan or Spartan.

 

545C. Very well Let's try and describe the way in which timocracy might arise out of aristocracy. Is it a general rule that the cause of change in anyregime is to be found in the sovereign body itself - when civil war ariseswithin this group? That as long as this group, however small it may be,remains united, it is impossible for the regime to be altered?' 'Yes, that's true.'i n that case, Glaucon, how will the regime of our city be altered? How will civil war break out either between our auxiliaries and our rulers, or among them?

D o you want us, like Homer, to invoke the Muses to tell us"how first dissension fell upon them"?* Shall we imagine that they speakto us in high-flown, tragic tones, as if they were playing with little children

and teasing them by pretending to be speaking seriously?'

 


Republik Utopis

Dalam buku ke 8 dalam the Republic, dapat kita lihat bahwa Plato disini mendefiniskan demokrasi sebagai sesuatu yang dapat menghasilkan anarchy[10] , Negara ideal, bagi Plato, harus cukup kecil dan adil yang memadai. Negara terlalu besar akan sangat sulit untuk memerintah.

Bertrand Russel dalam History of western Philosophy (1946) [11] mengungkapkan secara garis besar bagaimana sebuah kelas dalam sebuah masyarakat harus terspesifikasi, yang pertama adalah golongan dari rakayat biasa( golongan pedagang-buruh dll), yang kedua dari golongan serdadu/tentara, dan yang kedua golongan pemimpin, kedua kelas tadi, rakyat biasa dan serdadu tidak mempunyai kekuasaan politik, sedangkan bagi mereka yang berada dalam golongan pemimpin mempunyai kekuasaan politik.

Golongan pemimpin yang dimaksudkan oleh plato tak lain adalah sekumpulan aristokrt atau para bangsawan, para aristocrat tersebut memiliki kekuasaan dalam bidang politik dengan tanpa pengawasan.

Dalam mewujudkan kelas pemimpin tersebut salah satu hal yang terpenting dan mendapat sorotan oleh plato adalah pendidikan, dengan pendidikan, Plato melihat bahwa dengan pendidikanlah kelas pemimpin tesebut dapat dibentuk dan pemunculan sikap sopan-santun dan keberanian, sehingga pengawasan akan buku-buku yang boleh dibaca dan tidak boleh dibaca menjadi sesuatu yang lazim.

Plato pun menyarankan penyensoran terhadap musik dan drama, music-musik dengan nada nada harmoni dari Lydia dan Ionia dilarang karena music tersebut mendendangkan duka, dan iramanya terbilang lembut, hanya music dan drama yang menampilkan keberanian dan ketangguhan.

Begitu juga dalam hal ekonomi, Plato menyarankan Komunisme bagi kelas pemimpin, Plato disini sangat menyoroti hak milik, kebersamaan dan kesemeratan ekonomi menjadi suatu hal yang harus dimiliki pemimpin, kelas pemimpin dilarang memiliki hak milik pribadi.

Plato melihat bahwa kelas pemimpin harus mempunyai sebuah kebijaksanaan sehingga seorang raja atau pemimpin [12]   haruslah seorang filsuf, sehingga dalam setiap kebijakan dan keputusan yang pemimpin ambil mencerminkan kebijaksanaan (wisdom).

Plato juga bersikap anti hedonism, dapat kita lihat dalam dialog antara socrates dan Protagoras,  ketika socrates mengemukakan hipotesis tentang hedonism, Protagoras menjawab [13] :

Protagoras : “So, then, to live pleasantly is good, and unpleasantly, bad? Yes, so long as

he lived taking pleasure in honorable things.”

Socrates tries to win him over, by asking:“Isn’t a pleasant thing good just in so far as it is pleasant?” But again Protagoras protests: “There are pleasurable things which are not good . . . there are painful things which are not bad . . . and a third class which are neutral – neither bad nor good.”

Socrates tries again, clarifying his question: “You call pleasant things those whichpartake of pleasure or produce pleasure? Certainly,” he said. “So my question is this: Just in so far as things are pleasurable are they good? I am asking whether pleasure itself is not a good” ( Prt . 351 c 1– e 7, trans. Lombardo and Bell).

 

Idea sebagai ontology politik Totalitarian

Secara garis besar filsafat Plato mendasarkan dirinya pada sebuah distingsi antara realitas dan penampakan, sesuatu yang tak mungkin disangkal sebagai sesuautu yang mendapat pengaruh filosofis dari Parmeninedes, ada dunia yang lain, yang kekal, yang abadi. Sesuatu yang tak menunjuk pada apa pun didunia ini.

Sehingga jika kita berbicara mengenai tentang seorang filsuf dalam kamus Plato maka filsuf adalah seorang yang mampu untuk menangkap sebuah realitas yang kekal, yang tak terpaku pada inderanya, seorang yang dapat menangkap realitas dalam bentuknya yang sejati, sesuatu yang tak beruabah sebuah idea. Maka seorang filsuf adalah orang yang dapat menangkap idea, sebuah kebenaran hakiki.

Teori tentang idea ini bersifat logis dan metafisis[14] , sebuah contoh klasik, keadilan, apa yang kita maksud dengan kata keadilan disini tidak menunjuk pada setiap keadilan yang particular yang ada. Jika hukum dalam salah satu tujuan dasarnya dalah menunjuk pada keadilan, maka keadilan yang dimunculkan pada setiap undang-undang bukanlah sebuah keadilan yang dimaksudkan secara universal, atau idea tenatng keadilan. Karena idea keadilan tidak merujuk pada hal-hal yang ada dalam yang diinderai.

Konsep keadilan sebagai idea tersebut adalah kesejatian, ia menjadi cerminan bagi keadilan-keadilan yang particular. Keadilan yang ditampilakan oleh hukum hanyalah bayangan dari idea tentang keadilan. Keadilan tanpa kesempurnaan.

Sehingga para filsuf hanyalah tertarik pada idea tentang kesejatian, keadilan yang satu itu. bukan pada idea keadilan yang disajikan oleh hukum-hukum yang dapat dikatakan bersifat inderawi.

Dalam filsafat politik dapat dikatakan idea dapat menggiring kearah totaliarianisme, idea kebenaran ini lalu dipaksakan pada realitas yang sedang menjadi “becoming”. Sehingga realitas tak pernah selau sama dengan idea, karean nilainya selalu subordinat dengan idea.

Padahal dapat kita cermati bahwa realitas dalam politik adalah sebuah kebebasan dan tak kebenaran yang absolute yang dapat dipaksakan. Jadi dalam masyarakat demokratis selayaknya sebuah ruang politik harus dibersihkan dari sebuah kebenaran absolute yang menjerat realitas dan mengharuskan realias sama dengan idea.

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] http://plato.stanford.edu/entries/plato/

[2] Plato mempunyai 2 saudara laki-laki: Glaucon (mempunyai peran penting dalam buku Republic ) dan Adimaentus (Adimantus diperkenalkan oleh Plato sebagai saudara di Apology 34a) dan saudara perempuan:Potone (ibu dari spesippus), sedangkan Critias dan Charmides adalah anggota The Thirty (30 tiran,) yang mengkudeta Athena setelah perang Poloponessian  yang  panjang dan melelahkan adalah sepupu dan saudara laki-laki dari pihak ibunya, lihat W.K.C.Guthrie, History In Greek Philosophy Vol. 4 : Plato The Man and His Dialogues Earlier time , Cambridge University Press, Cambridge, 1975, page 11. Lihat juga Julia Annas, Plato : Very Short Introduction, Oxford University, Oxford, page 13.

[4] Anthon Powell, Athens and Sparta : Constructing Greek Political and Social History from 478 BC,second edition,Routledge, 1988 page 97.

[5] Opcit.

[6] Betrand Russel,  sejarah filasafat barat dan kaitannya dengan kondisi sosio politik  dari zaman kuno hingga sekarang ,History of western Philosophy and ist connection with political and socialcircumstances from earlieast time , London 1946

[7] Malcolm Schofield, Plato: Political Philosophy,Oxford University press, new York, 2006,page 51

[8] Plato , Republic,edited by GRR Ferrari translated by Tom Griffith,Cambridge University Press, page

[9] Ibid, page 253

[10] Opcit, page 130

[11] Opcit.

[12] Lihat Introduction “Philosopher as a king “dalam Republic Plato,opcit page xviii

[13] Gerasimos santas, Plato on Human pleasure as  good,  Companion to Plato, page 313

[14] Bertrand Russel, Opcit.  Hal 165

Sat, 22 Oct 2011 @06:02


2 Komentar
image

Sun, 11 Dec 2011 @07:29

Plato anak alay

kui mbok diedit sik..lhe...
ojo sembarangan di posting..

image

Wed, 14 Dec 2011 @05:53

admin

sory mas ga tau,lain kali ga wes :-D


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+0+8



RSS Feed

Copyright © 2017 budi dkk (085225529893) · All Rights Reserved