Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Metafisika Aristotelian

image

 

Metafisika Aristotelian

Oleh : Eko Mukminto

 

Biografi singkat

Aristoteles dilahirkan pada tahun 384 SM di kota kecil Stagira, di pantai utara-timur semenanjung Chalcidice. Pada saat berumur 17 tahun, Proxenus membawanya ke Athena untuk belajar menjadi seorang intelektual dan memasukkanya ke Academia, dibawah bimbingan Plato, dan Ia pun belajar disana selama lebih dari 20 tahun.

 

Dibawah Bimbingan Plato, ia pun akhirnya dapat memberikan kuliahnya sendiri, kuliah yang a berikan adalah subjek retorika, Setelah kematian Plato, Ia pun menunjukkan kemampuannya untuk meneruskan Plato dan kerja Intelektualnya, tetapi karena perbedaan dalam ajarannya dengan plato maka, Academia akhirnya diteruskan oleh keponakan Plato, Speusippus.

 

Dengan adanya undangan dari Philip of Macedonia, ia menjadi tutor dari putrany, Alexander yang berumur 13 tahun. Dan setelah Alexander menjadi penguasa, ia pun merasa bahwa tugasnya telash selesai dan ia pun ia pun pulang ke Athena.

 

Sepulangnya di Athena. Ia pun menemukan bahwa sekolah-seolah disana sangant kental dengan nuansa filsafat Plato, bahkan ada sekolah platonic yang berkembang  dibawah Xenocrates, dan akhirnya ia pun mendirikan sekolah sendri yang ia beri nama Lycum. Ketika mengajar di Lycum, ia sering berjalan-jalan disekitar ketika ada diskusi.

 Aristoteles dikenal dengan tulisannya yang sistemasyis, dan detail, karya-karya aristotels dapat dibagi menjadi :

  • Logika
    1. kategori
    2. On Interpretation (propositions, truth, modality)
    3. Prior Analytics (syllogistic logic)
    4. Posterior Analytics (scientific method and syllogism)
    5. Topics (rules for effective arguments and debate)
    6. On Sophistical Refutations (informal fallacies)
  • Fisika
    1. Physics (explains change, motion, void, time)
    2. On the Heavens (structure of heaven, earth, elements)
    3. On Generation (through combining material constituents)
    4. Meteorologics (origin of comets, weather, disasters)
  • Psikologi
    1. On the Soul (explains faculties, senses, mind, imagination)
    2. On Memory, Reminiscence, Dreams, and Prophesying
  • Filsafat alam
    1. History of Animals (physical/mental qualities, habits)
    2. On the parts of Animals
    3. On the Movement of Animals
    4. On the Progression of Animals
    5. On the Generation of Animals
    6. Minor treatises
    7. Problems
  • Filsafat
    1. Metaphysics (substance, cause, form, potentiality)
    2. Nicomachean Ethics (soul, happiness, virtue, friendship)
    3. Eudemain Ethics
    4. Magna Moralia
    5. Politics (best states, utopias, constitutions, revolutions)
    6. Rhetoric (elements of forensic and political debate)
    7. Poetics (tragedy, epic poetry)

Dalam kesempatan kali ini saya akan membatasi pada filsafat Aristoteles, mengenai metafisika, Salah satu motif yang menggerakan Arsitoteles melalui metafisika adalah keinginannya mencari kebijaksanaan (wisdom), keingin-rasa ingin tahu adalah sebuah sebuah daya yang ada dalam setiap manusia, sebuah keutamaan dalam menggunakan indera kita, sebuah hal yang membedakan kita dengan binatang, dan kebijaksanan tidak hanya dalam sains dan  pengetahuan sebab akibat, tetapi harus dapat mencari sebuah prinsip pertama, penyebab pertama dan universal. Inilah sebuah pengetahuan yang komprehensif[1].

 

Pengetahuan yang komprehensif berarti dalam penilaian dan pengetahuan manusia dalam realitas tak terbatas dalam dunia yang kongkrit dan terbatas hanya  dalam sebuah proses penginderaan, sehingga proses abstraksi pada objek-objek indrawi akan memberikan sebuah penjelasan bagaimana sebuah realitas terbentuk.

 

Pertanyaan yang hinggap dalam benak Aristoteles, apakah sangat dimungkinkan sebuah pengetahuan yang satu dan komprehensif melalui metafisika dan dapat merangkum keseluruhan pengetahuan alam semesta secara rinci dari sebuah prinsip pertama? Singkatnya apakah ilmu tentang metafisika dimungkinkan?[2]

 

Hal tersebut dijawab oleh Arsitoteles, dengan bantuan posterior analitis, yang dimaksudkan disini menurut Aristoteles, karena apa yang “ada” dan hal-hal tertentu  adalah sebagaimana adanya sehingga dapat diketahui, ada prinsip-prinsip tertentu yang dapat diketahui dari pengetahuan awam (common sense), dan hal tersebut dapat ditunjukkan dengan hukum kontradiksi, tetapi perlu digaris bawahi, yaitu metafisika tak dapat mendeduksikan  secara detail dari realitas, ada beberapa bagian dari realitas yang unik (distinct) tersendiri. Sehingga dari sini kita kan sampai pada pembedaan antara universalitas dan partikularitas.

 

 

 Realitas : Particular dan Universal

Partikularitas adalah kekhasan dalam setiap bangunan realitas, bagian-bagian yang menyusun identitas realitas itu sendiri. Partikularitas bertalian  dengan substansi. Sedangkan Universalitas adalah sesuatu yang  mengakomodir persamaan dan relasi antar realitas, akan tetapi dalam pemikiran metafisik Aristoteles, Universalitas ini bukanlah forma, karena forma walaupun  ada  dalam segala realitas, dan  bukan berarti eksistensinya menjadi milik universal dan bersifat umum. Dapat dikatakan, ada sebuah distingsi antara substansi (materi) dengan forma.

 

Mengenai partikularitas dan universalitas sendiri, hal tersebut mengacu pada bahasa, dapat dikatakan sebuah eksistensi objek akan merujuk pada sebuah aspek penamaan dan atribut-atribut yang  diasosiasikan pada objek tersebut, jadi universalitas adalah ciri atau sifat. Dapat kita ambil contoh padat, cair,  bulat ataupun lembek. Mengenai partikularitas Jika kita dapat merujuk pada pembahasaan, ada  nama-nama benda yang menunjuk pada benda-benda, seperti Bumi, Matahari, awaludin, Kingkong dsb.

 

, "Dengan istilah universalitas saya maksudkan suatu ciri yang dapat dipredikatkan pada banyak subyek, sedangkan partikularitas adalah sesuatu yang tidak bisa dipredikatkan." Ujar Aristoteles Nama Diri adalah yang partikular, sebuah entitas yang unik dan personal. Sementara universalitas berkaitan dengan suatu keumuman atau kelompok[3].


Bertrand Russell (I946) mengambil contoh permainan sepak bola untuk menjelaskan teori universalitas dan partikularitas ini. Permainan sepak bola adalah suatu universalitas karena merujuk kepada suatu aspek keumuman karena tidak terikat kepada kontek ruang dan waktu dimana permainan itu dilansungkan. Sementara ketika mengatakan bahwa permainan sepak bola tanpa adanya  pemain yang memainkan olah raga itu, maka hal tersebut tidak masuk akal. Para pemain sepakbola akan  merupakan partikularitas sejauh dia terikat kepada person, manusia, dalam konteks ruang dan waktu  manusia itu bermain. Dan itu merupakan hal yang partikular. [4]


Awaludin akan tetap menjadi  Awaludin  meski selama hidupnya dia tidak pernah menjadi Filsuf. Awaludin tidak akan berhenti menjadi dirinya hanya karena dia kebetulan tidak pernah senang olah raga apapun. Begitu pun sebaliknya,.

 

Dan yang harus diperhatikan adalah relasi antar keduanya, hal ini memungkinkan kedua-duanya harus ada, Universalitas tak mungkin hadir tanpa yang particular, begitu juga sebaliknya, yang satu mengandaikan yang lain. Dengan kata lain, sepak bola tersebut  bisa tetap eksis meski tanpa pemain sepakbola, tetapi tak akan mungkin ada sebuah permainan bola tanpa pemain bola. Seperti juga rasa Asin tidak mungkin muncul tanpa garam misalnya, keberadaannya. Suatu subyek itulah partikularitas, dan rasa asin  adalah universalitas. Kualitas rasa asin merupakan universalitas yang melekat pada partilukularita..

Dalam analisis lebih jauh, setiap benda, selain mempunya dimensi sifat-sifat universal yang melekat pada suatu subyek, dalam dirinya subyek itu juga mempunyai bahan dasar (substratum) dimana kepadanya aspek universal tadi melekat. Inilah yang diklaimnya sebagai substansi[5]. Suatu bahan dasar yang tidak lenyap meski sifat-sifat unirvesal telah hilang. Contoh tambahan, Sebagai contoh Kingkong akan tetap menjadi Kingkong walapun bulunya rontok atau dicat putih dan bau apeknya hilang, berbeda jika kingkong berubah menjadi kuda Poni, sebab bahan dasar yang partikular tadi telah berubah atau lenyap.

 

 

Antara Forma dan Materi

 

Dalam metafisika Aristoteles  dihadirkan juga  sebuah  pembedaan antara  forma (form) dan materi (matter)[6]. Seperti yang dicontohkan Bertrand Russell (1946)[7], tentang sebuah arca yang terbuat dari pualam. Dalam hal ini pualam adalah materi, sementara bentuk arca yang diciptakan oleh seorang pemahat merupakan forma., seperti juga misalnya jika seorang membuat bola perunggu, maka perunggu adalah materi, dan sifat kebolaan atau bundar adalah forma
sehingga  dengan forma, sebuah materi dapat  menjadi suatu tertentu, dan inilah substansi sesuatu. Sesuatu materi harus terbatas, dan batas inilah yang dia sebut formanya. Kita tidak bisa melihat materi tanpa sekaligus melihat formanya. Karena forma adalah aktualitas dari setiap materi yang ditangkap oleh indera. Perubahan dari pualam menuju arca adalah perubahan forma, yang dengan itu berarti merupakan perubahan dari potensialitas menuju aktualitas. Sebab, dalam bagian tertentu, pualam tadi tidak mengalami perubahan seperti keadaannya semula sebagai bongkahan batu.


Akan tetapi jika kita analisis selanjutnya,. Forma adalah Substansi maka karenanya forma bukanlah universal. Dan kerena forma merupakan substansi, maka secara konsisten  forma tidak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, karena semua substansi tidak dapat diasosiasikan dalam universal.

 

Bagaimana jika semua forma sama, sebuah alat cetak atau print sangat mungkin akan membentuk forma yang sama, sebuah kertas dan tinta dalah sebuah materi dan forma membentuk nya menjadi tulisan. Atau dalam kasus lain seperti  gambar poster yang dicetak.


Jadi dapat dikatakan forma yang membentuk substansi menjadi tidak masuk akal, dan  forma yang merupakan substansi. Jika forma memang  substansi, tentu tidak ada yang sama antara satu forma dengan forma yang lain .


Dan juga ketika  forma  tidak diciptakan, yang dilakukan hanyalah menyatukan materi dan forma, karena menurut Aristoteles forma menjadi Ada sebagai fundamen yang  mengaktualisasikan potensi materi. Dalam kasus arca pualam, potensi adalah pualamnya, sementara actus merupakan forma atau bentuk arca. Yang dilakukan pemahat hanyalah menggabungkan keduanya, yakni materi dan forma, bukan menciptakan. Berbagai hal meningkat aktualisasinya karena menerima forma; materi tanpa forma hanya berupa potential[8].Dan bagaimana mungkin forma adalah yang real dari materi hanya karena forma sesuatu terpisah dari materi. Yang tidak di ceermati adalah bahwa mungkin forma hanya aksiden. Secara konsisten ada hal yang tidak bisa di balik, jika ada materi maka forma.

 



[1] Sir David Ross, Aristotle, Routledge, New York, 1995, pg. 162-163

[2] Ibid.

[3] Lihat Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat dan kaitannya dengan kondisi Sosio Politik dari zaman kuno hingga sekarang, diterjemahkan dari History of Western Philosopy and its connectionwith political and social Circumstance From earliest time to Present day, diterj. Oleh Sigit Jatmiko, London, 1946, hal. 320-

[4] Ibid.

[5] 1) ‘because it can exist apart while they cannot.’ This does not mean that it can exist without them while they cannot exist without it. A qualityless substance is as impossible as a quality which does not presuppose a substance. The substance is the whole thing, ncluding the qualities, relations, etc., which form its essence,

and this can exist apart. It implies qualities but these are not something outside it which it needs in addition to itself. A quality on the other hand is an abstraction which can exist only in a substance. Obviously, if this is his meaning, Aristotle is thinking of substance as the individual thing. Secondary substances (i.e. genera and species), being universals, cannot according to his own doctrine exist apart, but must be

supplemented by the special qualities of their individual members.

(2) Substance is prior in definition. In defining a member of any other category you must include the definition of the underlying substance. Aristotle implies that in defining a substance you need not include the definition of anything in any other category; but this is not true, since every differentiaof a substance is a quality.

(3) Substance is prior for knowledge. We know a thing better when we know what it is than when we know what quality, quantity, or place it has. Indeed, if we want to know somethingthat belongs to a category other than substance, we must ask not what qualities, etc., it has, but what it is, what is its

quasisubstance, that which makes it what it is. In this rgument substance is evidently being thought of not asthe

concrete thing but as the essential nature. And this double meaning pervades Aristotle’s whole treatment of substance

 

[6] Materi di sini bukan dalam pengertian materi yang berlawanan dengan jiwa, akan tetapi materi yang berlawanan dengan forma atau bentuk.

[7] Russel Opcit.

[8] The term ‘actuality’, the term connected with fulfilment, has alsobeen extended to other cases from applying most of all to change.For it seems that actuality most of all has its being qua changewhich is why in addition people do not assign change to non-beings,though some other predicates, such as being thought about and being desired, are predicated of non-beings, but not being changed, lihat Aristotle metaphysic, translated by Stephen Makin, clarendon Press, oxford, 2006 page.

 

Wed, 28 Sep 2011 @10:26


1 Komentar
image

Fri, 9 Nov 2012 @16:46

rrgocny

U7VZy0 <a href="http://agstswfewsui.com/">agstswfewsui</a>, [url=http://dldfecdtxtjm.com/]dldfecdtxtjm[/url], [link=http://jnjnxrakhjpx.com/]jnjnxrakhjpx[/link], http://mllstmmffgpu.com/


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 0+7+2



RSS Feed

Copyright © 2017 budi dkk (085225529893) · All Rights Reserved