Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Online



widget

Traffic

Jam Berapa?



Facebookan Yoooh!!
SLINK

KECOA DAN MASSA KECOA

KECOA DAN MASSA KECOA

 

Cerita Manusia

Makhluk bersayap tipis, yang seluruh hidupnya dipenuhi dengan kotoran. Hidup di tong sampah, tempat lembab yang bau, digudang, didapur dan ditempat tersembunyi dimana orang tidak bisa melihatnya. Yang aku tahu kecoa hidup dimalam hari untuk mencari makan tidak jarang pula mereka mencari makan disiang hari, ya mungkin karena mereka vampire yang sensitive dengan UV karena lapisan ozon yang terus terkikis ganasnya teknologi. Cerita berawal, waktu itu aku sedang melintasi dapur tanpa sengaja aku melihat seekor kecoa di wastafel kos-kosan aku, si kecoa diam tapi salah satu anggota tubuhnya bergerak mengikuti irama. Aku tidak tahu kenapa si kecoa itu diam, entah lapar, entah haus atau dia sekarat. Di wastafel tempat kosan aku memang sering untuk membuang makanan sisa temen-temen aku, maklum kelas hedonis yang mengagumi hedonismenya. Aku tidak mau memperhatikan lama kecoa itu bukan karena takut atau jijik, tapi lebih karena si kecoa itu telah mengganggu ketenanganku. Aku mengambil alat untuk membunuh kecoa itu, yang aku anggap dia telah melakukan kejahatan dengan mencuri secuil makanan yang sudah tidak berharga. Aku mengambil sandal sebelah kiri dan aku menggencen tubuh si kecoa itu CROOT… keluarlah semacam cairan putih yang sangat menjijikan. Kasihan dia terkapar tak berdaya dengan tubuh yang hancur mumur, aku berpikir, kasihan juga si kecoa yang tidak berdosa itu, aku membunuhnya cuman dengan alasan si kecoa itu mengganggu ketenanganku dan Cuma mengambil makanan yang telah aku buang. Dia hanya mencari makan sesuap nasi yang sulit baginya untuk didapat dan mungkin juga si kecoa itu jika mendapat makanan, belum tentu dia makan makanan itu sendirian mungkin ada anak, istri sanak saudara yang juga kelaparan dirumah, dan aku tega membunuhnya. Aku berpikir untuk kedua kalinya, orang macam apa aku ini tega membunuh makhluk rendah yang aku anggap kotor itu. Ya, si kecoa makhluk rendah itu makhluk yang tidak berdosa itu makhluk yang hanya mencari sesuap nasi dan mungkin juga bukan untuknya, telah aku bunuh dengan tanganku sendiri.

Suatu ketika aku sedang duduk menonton TV dengan sofa yang hangat di ruang tengah kos-kosan aku, dengan menikmati makanan ringan aku duduk dengan santainya. Aku memegang erat makanan ringan di tanganku, seakan-akan tidak ingin orang lain mengambilnya. Aku tahu makanan ini tidak sehat untuk aku dan mungkin bisa membuat aku gendut diperut tapi aku menikmatinya. Tiba-tiba makhluk rendah itu mengusikku lagi. Ya, kecoa itu mungkin ini adalah salah satu teman atau kerabat kecoa yang aku bunuh waktu itu, tanpa rasa takut dia mendekatiku dan mau mengambil makanan yang aku genggam erat ditanganku. Si kecoa itu melakukan perlawanan dengan menggigit tangan kananku, aku mengaduh tanda sakit, si kecoa makhluk rendahan itu telah menyakitiku. Tak segan pula aku melawan, lagi-lagi aku menghantamkan sandal ketubuh kecil kecoa itu dan lagi-lagi keluar cairan putih yang menjijikan. “Heh cuma seekor kecoa berani melawan aku orang yang menguasai kos-kosan ini, dasar kecoa makhluk rendahan, dasar makhluk tidak tahu diri”. Aku yang benci dengan makhluk rendahan ini ingin sekali menghabisi seluruh populasinya di kos-kosan ini. Ini adalah misiku, misi dimana orang besar menghabisi makhluk rendahan yang mayoritas hidup di kos-kosan ini.

Hari berikutnya aku sedang menikmati uang gajian aku, uang yang tak lain hasil iuran makhluk rendahan. Aku membelikan benda yang aku sukai, tentu saja setelah beli pasti aku simpan begitu saja, di tempat-tempat dimana tidak bisa terdeteksi oleh makhluk rendahan seperti kecoa itu, aku menyimpannya di kamar temen aku, aku menyimpannya dilemariku dan aku menyimpannya di bawah kasur. Perut aku semakin buncit karena sering duduk santai tanpa melakukan pekerjaan yang seharusnya aku kerjakan, tidur saat rapat kos sudah sering aku lakukan apalagi mangkir dari jadwal piket kos.  Secara mendadak ada segerombolan kecoa yang aku lihat mereka melakukan protes keras terhadap pembunuhan teman-teman mereka. Seolah-olah mereka mengancamku dengan membuat aku ketakutan dan jijik, mereka lewat didepan aku dengan berlari-lari mendesak aku untuk takluk kepada mereka, tapi aku tidak menyerah aku melawan sekuat tenagaku menghantamnya dengan tembakan gas air mata pembasmi sarangga. Mereka semua ambruk, tapi mereka tidak menyerah mereka tetap mendesak aku untuk takluk dengan mengerahkan massa kecoa yang menjijikan itu. Aku tetap melawan mereka mendesak makhluk rendahan itu biar tetap tunduk digenggamanku, tapi aku tak kuasa melawan beribu massa kecoa itu. Ya, makhluk menjijikan itu, makhluk rendahan itu telah menundukanku, mengambil alih seisi kos-kosan aku. Lebih tepatnya aku dan teman aku takluk pada ribuan kecoa itu.

 

Kecoa Yang Terorganisir

Kami adalah kecoa makhluk yang dianggap rendahan sampah kotor dan menjijikan oleh manusia. Kami memang sering mengusik kehidupan mereka bukan karena kami ingin mengganggu mereka, karena memang kami ingin mencari sesuap nasi untuk memenuhi kehidupan keluarga kami dan anak-anak kami. Kami sering tinggal di tong sampah, dapur, gudang pokoknya tempat-tempat kotor dimana manusia tidak ingin menjamahnya. Hal ini bukan semata-mata keinginan kami lebih karena mereka manusialah yang menginginkan kami tinggal disana.

Pada suatu ketika ayah saya sedang mencari makan di dekat wastafel tempat manusia membuang sisa-sisa makanan yang mereka konsumsi, disana ayah sedang menunggu datangnya sampah makanan itu. Keluarga kami ada enam ekor ayah, Ibu, kakak dan dua adik laki-laki aku. Dan yang mencarikan kami makan adalah ayah aku, karena ibu sedang mengandung anaknya yang kelima dan kakak cacat pada kedua kakinya karena dihantam kayu oleh manusia, sedangkan aku kata ibu dan ayah belum cukup umur, kata ayah “kamu tidak usah bantu bapak kerja cari makan cukup jaga adik-adikmu dan sekolah”. Tiba-tiba ada manusia mendatangi ayahku dan entah mereka berpikir tentang apa mengenai ayahku, manusia itu menghantamkan benda besar yang terbuat dari karet pipih entah apa namanya ke tubuh ayahku. Seketika itu tubuh ayah hancur mumur dan mengeluarkan cairan putih dalam tubuhnya. Para kecoa waktu hanya bisa melihat tanpa berbuat apa-apa, malahan ada yang bersembunyi. Saat itu juga aku kehilangan ayahku dan saat itu pula aku berniat untuk menundukan manusia itu dengan kroninya.

Sejak peristiwa itu kami kecoa yang dianggap manusia makhluk rendahan itu mencoba untuk mengumpulkan kecoa-kecoa lain dan mencoba menorganisir para kecoa untuk menundukkan manusia itu, hari berganti hari kami mempersiapkan penyerangan pada manusia. Karena kelaparan 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+5+9



RSS Feed

Copyright © 2017 budi dkk (085225529893) · All Rights Reserved