Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

PANCASILA DAN AHMADIYAH (menciptakan Kerukunan Beragama dengan menegakkan kembali Ideologi Pancasila)

PANCASILA DAN AHMADIYAH

(menciptakan Kerukunan Beragama dengan menegakkan kembali Ideologi Pancasila)

 

“PANCASILA”, dari kata “panca” yang berarti lima dan “sila” yang bearti akhlak; aturan yang melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa. Secara etimologis Pancasila adalah lima aturan yang melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa. Pancasila inilah merupakan jatidiri Bangsa Indonesia, salah satu hasil budaya yang sangat penting yang dirumuskan para pendiri bangsa dari hasil penelitian dan pengamatan bertahun-tahun, sehingga terumuslah setiap butir sila dari Pancasila yang bermakna sangat dalam bagi diri bangsa Indonesia.

Masih ingatkah dibenak anda setiap hari senin atau setiap Hari Besar lainnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia selalu dibacakan oleh Petugas atau Inspektur Upacara Bendera dan diikuti oleh puluhan bahkan ratusan peserta Upacara Bendera. Apakah pembacaan Pancasila ini sebagai simbol pelengkap upacara bendera saja ataukah ada makna lain? Saya rasa ini hanya formalitas saja, tidak ada yang khusus dari pembacaan Pancasila tersebut. Andaikan seorang anak dinasehati orang tua hanya melintas saja, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Karena itulah banyak yang tidak mengerti apa sebenarnya makna yang terkandung dalam setiap butir sila yang ada di Pancasila. Alhasil kekacauan seperti inilah yang sekarang terjadi, Pejabat Korupsi, Rakyat Anarki, Para Gadis Aborsi.   Pembacaan Pancasila bertujuan untuk mengingatkan kembali dan lebih memaknai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, supaya hal-hal yang berseberangan dengan falsafah negara kita dapat tumbang sebelum menyerang, karena setiap Individu didasarkan dengan Moral yang baik dan benar.

Cikeusik, tanggal 6 Februari 2011 menjawab lemahnya pemahaman Pancasila sebagai Ideologi Negara di Negeri ini, Hukum sebagai pilarnya roboh seketika. Tak ada lagi budaya duduk bersama kemudian membicarakan masalah tersebut. Indonesia seolah kehilangan jati dirinya sebagai negara yang dikenal dengan negara yang berbudi luhur.   Alhasil penyerangan sekelompok orang yang berjumlah antara 700 hingga 1.000 terhadap Jemaat Ahmadyah Indonesia.

Seharusnya kejadian seperti ini tidak harus terjadi, apabila kita memaknai butir-butir Pancasila dengan makna yang sesungguhnya. Sebagai warga negara Indonesia kita harus berpegang teguh pada pedoman kebangsaan kita yaitu Pancasila, untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Sila pertama Pancasila berbunyi “Ketuhanaan Yang Maha Esa”, sila ini dapat dimaknai bahwa setiap individu atau warga negara Indonesia berkeyakinan dan berkepercayaan satu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prof. AT Soegito menuliskan dalam bukunya “Pendidikan Pancasila”, beliau mengatakan “Nilai Ketuhanan Yang Maha Ea mengandung arti keyakinan dan pengakuan yang diekspresikan dalam bentuk perbuatan terhadap Zat Yang maha Tunggal tiada duanya. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan kebebasan kepada pemeluk agama sesuai dengan keyakinannya, tak ada paksaan dan antara penganut agama yang berbeda harus saling menghormati dan bekerjasama”.

Pasal 29 (2)   UUD 1945 berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu ”, pasal 29 (2) merupakan refleki dari sila 1 Pancasila. “Pasal tersebut juga merupakan bentuk peneguhan dan penegasan bahwa Negara Indonesia didirikan bukan atas dasar satu agama saja, tetapi memberikan kedudukan yang sama bagi semua agama yang berkembang di Indonesia. Konsepsi satu untuk semua merupakan kesepakatan bersama para pendiri bangsa dengan melihat realitas kemajemukan bangsa.” (suarapembaharuan.com)

Jika ini dikaitkan dengan kerusuhan di cikeusik sangatlah tidak tepat, tindakan seperti ini dapat dikatakan sebagai tindakan Barbar. Tindakan barbar pantas dilakukan oleh binatang karena untuk mempertahankan wilayahnya mereka harus saling mengalahkan satu sama lain, tapi tindakan seperti ini tidak cocok untuk manusia yang mempunyai budi pekerti, akal pikiran yang sempurna ketimbang makhluk lain ciptaan Tuhan di dunia ini. Untuk menangani masalah sosial alangkah baiknya kita menggunakan pendekatan sosial, untuk menangani masalah moral alangkah baiknya kita menggunakan pendekatan moral, bukan dengan jalan kekerasan. Seperti yang dikatakan Awaludin Marwan dalam bukunya ”Teori Hukum Kontemporer”, beliau kurang lebih mengatakan bahwa  “untuk menangani suatu masalah kejahatan, kita terlebih dahulu harus mengetahui patologi hukumnya”. Patologi dalam hal ini adalah masalah sosial atau dasar dari masalah tersebut apa atau biang masalah tersebut, misalnya orang mencuri atau merampok, kita harus tahu patologi hukumnya mengapa orang tersebut melakukannya. Nah setelah tahu  apa permasalahan mereka melakukan kejahatan tersebut, barulah kita bertindak sesuai hukum yang berlaku. Sama halnya dengan Jemaat Ahmadiyah yang di sinyalir menyebarkan aliran yang bertentangan dengan Islam. Dalam hal ini sebaiknya kita tidak langsung menghakimi bahwa mereka sesat. Ingat bahwa negara kita bukan negara Islam atau negara yang menganut satu agama saja, akan tetapi negara kita adalah “negara hukum” segala tindakan kita harus berdasarkan dan/atau berlandaskan dengan hukum yang berlaku di negara dan di masyarakat. Lihat pasal 1 (3) UUD 1945, berbunyi “Negara Indonesia adalah negara hukum” dalam penjelasan “negara Indonesia adalah negara Hukum (rechtstaat) bukan berdasarkan kekuasaan hukum belaka (machtstaat)”. Jadi segala tindakan kita harus berlandaskan hukum,  bukan main hakim sendiri (eigeenrechting). Hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah mencari sumber permasalahannya atau patologi hukumnya, mungkin bisa dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat, mediasi, observasi dan lainnya. Setelah itu kita dapat bertindak atas nama hukum mau diapakan Jemaat Ahmadi ini, apakah mau dibuat agama atau kepercayaan baru ataukah diadili sesuai undang-undang yang berlaku. Ingat bahwa Jemaat Ahmadiyah adalah Warga Negara Indonesia yang memiliki hak yang sama yang diatur oleh undang-undang.

Apabila rakyat kita memahami Pancasila dengan sesungguhnya, niscaya kehidupan berbangsa dan bernegara kita akan mencapai kesejahteraan yang maksimal       

Wed, 16 Feb 2011 @16:00


2 Komentar
image

Mon, 11 Aug 2014 @19:41

cqtxjvzjb

selama ini memang pemahaman anak muda tetng ideologi pancasila tererosi oleh budaya pop...sanagt inspiratif mas artilelnya..walaupun kasus lama tp akan terukir dlm sejarah bangsa kita

image

Wed, 13 Aug 2014 @10:25

admin

iya mas makasih komentarnya...suatu pelajar buat kita angkatan muda...


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 9+0+3



RSS Feed

Copyright © 2017 budi dkk (085225529893) · All Rights Reserved