Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

FENOMENA SOSIOLOGI HUKUM : GURU DALAM SEKAPAN MURIDNYA

image

FENOMENA SOSIOLOGI HUKUM : GURU DALAM SEKAPAN MURIDNYA

Oleh Budi Cesar

 

Sebelum kita beranjak pada sebuah penampakan fenomena sosiologi hukum, pertama-tama kita definisikan terlebih dahulu secara garis besar saja, antara sosiologi sebagai ilmu dan sosiologi hukum. Secara etimologis sosiologi berasal dari bahasa latin yaitu socius yang berarti kawan dan bahasa Yunani yaitu logos yang berarti kata atau berbicara. Jadi arti harfiah sosiologi adalah memperbincangkan teman, kemudian diperluas artinya yaitu berbicara mengenai masyarakat (Soerjono, 2003).Secara garis besar sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat.

Namun sebagai suatu ilmu pengetahuan, sosiologi membatasi diri terhadap persoalan penilaian, artinya sosiologi tidak menetapkan ke arah mana sesuatu seharusnya berkembang, dalam arti memberikan petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan (Soerjono, 2014).Dapat dikatakan bahwa sosiologi hanya melihat penampang luar dari sebuah sistem sosial masyarakattertentu atau mengidentifikasi, terkait hal yang baik dan yang buruk, sosiologi tidak dapat memberikan suatu petunjuk dan penilaian. Seorang sosiolog, berbeda dengan seorang ahli hukum, tak akan memberi penilaian tentang apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang benar atau salah, serta segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat (Soerjono, 2014).

Sebaliknya Hukumlah yang dapat membaca gejala social dalam masyarakat dan memberikan sebuah kebijaksanaan sehingga terciptanya suatu ketertiban didalamnya.Dikatakan oleh Prof. Soerjono Soekanto, bahwa sosiologi telah menelantarkan salah satu bidang kemasyarakatan yang sangat penting, yaitu Hukum.Seperti halnya konsep yang ditawarkan oleh Roscoe Pound, Hukum sebagai rekayasa sosial atau pembaharuan nilai-nilai social yang ada di masyarakat dan Hukum sebagai pengendali sosial.

Maka dari itu sosiologi hukum diperlukan dan bukan merupakan penamaan yang baru bagi suatu ilmu pengetahuan yang telah lama ada, dan dapat dirumuskan bahwa sosiologi hukum merupakan suatu cabang  ilmu pengetahuan yang antara lain meneliti mengapa manusia patuh pada hukum dan mengapa dia gagal untuk mentaati hukum tersebut serta factor-faktor sosial lain yang mempengaruhinya (Soerjono, 2014).

 

Sebuah Fenomena Sosiologi

Berkaitan dengan judul artikel diatas, dewasa ini kita melihat sebuah fenomena social yang menarik, Dasrul (52) seorang guru teknik di SMK N 2 Makasar yang menegur salah seorang muridnya yang tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya, malah mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya oleh orangtua murid tersebut. Pasalnya setelah murid ditegur oleh sang guru, murid tersebut menelepon orangtuanya dan alhasil orangtua murid marah terhadap guru tersebut hingga dilakukan penganiayaan.

Lain halnya dengan Nurmayani Salam, seorang guru SMP di Bantaeng yang akrab disapa Bu Maya ini akhirnya mendekap di penjara setelah mencubit salah seorang muridnya yang menolak mengerjakan sholat dhuha.Kasus ini telah terjadi pada Agustus 2015 lalu.Pun demikian halnya dengan Muhammad Samhudi saat beliau dilaporkan ke Polsek Balongbendo oleh orang tua Arif (murid) pada 8 Februari 2016, dengan tuduhan Muh Samhudi menyubit Arif hingga memar. Dan masih banyak lagi kasus-kasus Guru yang bersentuhan dengan dinginnya jeruji besi karena hal-hal yang sangat ringan.

Ada sebuah pergeseran paradigma dari segala aspek, baik nilaimoral, sosial, budaya dan pola pendidikan yang dapat dilihat dari kasus-kasus diatas.Yang jelas penghargaan dari seorang guru sudah bergeser, nilai-nilai moral yang ada didalam masyarakat hanya sekedar symbol-simbol teori yang diajarkan di sekolah-sekolah tanpa bisa dipraktekkan didalam masyarakat atau sedikit menyinggung peran orangtua dalam mendidik anaknya.Saya rasa pendidikan keluarga sudah tidak seperti dahulu, orangtua jaman sekarang melihat prestasi anaknya bukan dari intelektual moral dan intelektual sosial tapi mereka lebih mengedepankan prestasi akademik, nilailah yang jadi patokannya.

Analogi sebuah pemikiran Max Weber, perbedaan antara manusia yang mengikuti kuliah umum atau seminar publik dengan perkuliahan pada umumnya.Kita bebas keluar masuk saat mengikuti sebuah seminar publik tanpa mengindahkan pemberi materi, tapi kita tidak bisa tidak mengindahkan kehadiran kita saat perkuliahan pada umumnya. Dua hal yang sama namun berbeda, kita harus duduk dengan tenang menyimak materi yang diberikan oleh dosen atau guru, ini merupakan sebuah perwujudan nilai.

Sudah suatu kewajiban seorang Guru mendidik para murid-murid yang mendapatkan pelajarannya, dan jika ada kesalahan yang dilakukan seorang murid sudah sepantasnya guru tersebut menegur muridnya, karena bukan karena alasan benci namun karena sebatas ingin mendidik muridnya agar menjadi pribadi yang baik.Nah, bagaimana fenomena seperti ini ditinjau dari segi sosiologi hukum. Berikut kutipan dari Prof. Esmi dalam bukunya “Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis”, berhadapan dengan hakikat ilmu hukum dengan segala keterbatasannya, maka diperlukan “teori hukum sosial” untuk memperluas wawasan keilmuan dari hukum agar keluar dari kungkungan paradigma lama yang bersifat normative dan evaluatif.

 

Teori Fungsionalisme Struktural dalam Menganalisis Kasus

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh August Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer.Secara garis besar Fungsionalisme Struktural diartikan  bahwasebuah sudut pandang luas dalam yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan.

Durkheim mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan di mana di dalamnya terdapat bagian-bagian yang dibedakan.Bagian-bagian dari sistem tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang membuat sistem menjadi seimbang. Bagian tersebut saling interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem (Wikipedia.org).

Fungsi yang dimaksud oleh Emile Durkheim ini ada empat fungsi yaitu : adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan keadaan latent. Keempat fungsi ini berlaku pada setiap sistem yang ada.Jika dikaitkan dengan kasus Dasrul, Nurmayani dan Muh Samhudi, keempat fungsi yang seharusnya berdampingan ini sudah tidak seimbang lagi.Pada kasus Dasrul, yang dianiaya oleh orangtua murid, gara-gara tidak mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh Dasrul selaku gurunya.

Sangat terlihat bahwa keseimbangan fungsi ini sudah rusak, sekali lagi kewajiban seorang guru di sekolah adalah transfer knowledge, untuk selalu mengingat materi yang diberikan maka sang guru sudah menjadi kebiasaan memberikan pekerjaan rumah. Tapi malah sebaliknya Dasrul diberi perlakuan yang kurang baik.Hal ini ada semacam perbedaan sudut pandang antara pendidikan sekolah dan pendidikan keluarga.

Seharusnya pendidikan keluarga yang lebih diutamakan, melihat anak kena marah oleh sang guru jika tidak mengerjakan pekerjaan rumah merupakan hal yang sudah biasa, hal ini juga sebagai pembentuk sikap tanggung jawab anak. Bukan malah orangtua murid menganiaya gurunya, karena penganiayaan tersebut menjadi boomerang pada pendidikan keluarga sebagai pendidikan dasar.Ini merupakan contoh ketidak seimbangan fungsi pada sebuah sistem yang ada.

Pada Kasus kedua, yaitu pelaporan yang dilakukan oleh orangtua murid kepada Nurmayani karena menegur anak muridnya yang tidak mau mengikuti sholat dhuha, yang berujung dijebloskannya Nurmayani kedalam lembaga pemasyarakatan.Ini merupakan kasus yang sangat berlebihan, hanya sekedar menegur anak didiknya yang tidak mau menjalankan kebaikan malah berujung pada penahanan.Bahwa pemidanaan merupakan ultimum remidium tidak dapat diterapkan pada kasus seperti ini.Seharusnya para pihak, termasuk para penegak hukum yang terlibat bisa lebih mempertimbangkan aspek sosial masyarakat.Begitu juga dengan yang dialami oleh Muh Samhudi karena menegur untuk berbuat baik berujung pada penahanan.

Kecenderungan pada penegakan hukum yang lebih kepada positivisme hukum mengakibatkan proses kerja norma yang ada dimasyarakat telah kabur. Nilai-nilai keluhuran yang mestinya diterapkan didalam dunia pendidikan dan masyarakat luas menjadi absurd, karena campur tangan beberapa orang tua siswa yang tidak rela anak nya dibina dilingkungan sekolahnya.Seharusnya juga penegak hukum tidak dapat sertamerta menahan atau memproses kasus-kasus seperti ini, alangkah baiknya dikembalikan kepada kedua belah pihak atau apabila diperlukan penegak hukum dapat memediasikan kasus tersebut tanpa harus diproses secara hukum.

Sebuah sosiologi hanya dapat melihat sistem masyarakat dalam suatu permukaan saja, tapi dalam hal mengatur tentang bagaimana baik buruknya, boleh tidaknya suatu sistem pada masyarakat dibutuhkan hukum sebagai pengaturnya.Maka interdisipliner sebuah ilmu sangat diperlukan, yaitu sosiologi dan hukum, dalam kasus diatas terang-terang bahwa ada pergeseran sebuah nilai yang terjadi dimasyarakat.Nah tugas dari hukum adalah sebagai pedoman untuk mengatur tindakan yang benar dan salah atau baik dan buruk agar tercipta kembali sebuah keseimbangan nilai.

Namun seperti dijelaskan diatas hukum janganlah memandang sesuatu secara positivistik.Hukum harus dapat memilah-milah kasus yang harus diangkat keranah peradilan, hukum harus bisa menganalisis suatu kasus secara sosiologis, karena tak selamanya kasus pidana dapat dipidanakan, kecuali para penegak hukum selalu berpola piker positivistik yang mengesampingkan persoalan sosial masyarakat.

 

 

Kaidah-kaidah Sosial dan Hukum 

“Pergaulan hidup manusia diatur oleh berbagai macam kaidah atau norma, yang pada hakikatnya bertujuan untuk menghasilkan kehidupan bersama yang tertib dan tenterm. Di dalam pergaulan hidup tersebut, manusia mendapatkan pengalaman-pengalaman tentang bagaimana memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok atau primary needs, yang antara lain mencakup sandang, pangan, papan, keselamatan jiwa dan harta, harga diri, potensi untuk berkembang, dan kasih sayang. Pengalaman-pengalaman tersebut menghasilkan nilai-nilai yang positif dan negatif, sehingga manusia mempunyai konsep-konsep abstrak mengenai apa yang baik dan harus dianuti, mana yang buruk dan harus dihindari. Sistem nilai-nilai tersebut sangat berpengaruh terhadappola-pola berpikir manusia, yang merupakan suatu pedoman mental baginya.” (Soerjono, 2014)

Mengutip pernyataan dari Roscoe Pound bahwa fungsi hukum sebagai alat pengendali social, bahwa setiap masyarakat memerlukan suatu mekanisme pengendalian social agar segala sesuatunya berjalan dengan tertib. Ialah segala sesuatu yang dilakukan untuk melaksanakan proses yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan untuk mendidik, mengajak atau bahkan memaksa para warga masyarakat agar menyesuaikan diri dengan kaidah-kaidah dan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang bersangkutan. (J.S Roucek, 1951 dalam bukunya Soerjono Soekanto, 2014)

Lalu bagaimana dengan sikap dan tindakan para orangtua murid pada ketiga kasus diatas, apakah sistem nilai ini sudah diabaikan oleh ketiga orangtua murid tersebut atau malah kaidah-kaidah nilai sudah tidak dimiliki oleh para guru. Tapi yang jelas, nilai-nilai social dimasyarakat sudah bergeser dan yang kita butuhkan adalah sebuah hukum yang dapat memberikan pedoman agar nilai-nilai social di masyarakat dapat kembali seimbang. Dan juga menyadarkan manusia untuk tetap menjalankan kaidah-kaidah social yang ada di dalam sistem masyarakat.

 

 

Photo By : http://blogpunyamip.blogspot.co.id/2015/11/bab-3-tipe-tipe-guru.html

Tue, 11 Apr 2017 @10:37


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 3+7+6



RSS Feed

Copyright © 2017 budi dkk (085225529893) · All Rights Reserved